Bagikan:

Standar Keselamatan, Kemenhub Ancam Pidanakan Pemilik Kapal Tradisional

"Kemarin saya naik satu kapal tradisional, itu ada drum bahan bakar ada di penumpang, itu ngga boleh."

BERITA | NASIONAL

Senin, 09 Jan 2017 21:25 WIB

Author

Eli Kamilah

Standar Keselamatan, Kemenhub Ancam Pidanakan Pemilik Kapal Tradisional

Ilustrasi: Kapal Zahro Express. (Foto: Redy Tour)


KBR, Jakarta- Kementerian Perhubungan (Kemenhub)  masih menemukan kapal tradisional yang  menyimpan bahan bakar kapal di dek penumpang. Itu sebab, Direktur Jenderal Perhubungan Laut (Dirjen Hubla) Antonius Tonny Budiono, Kemenhub mendesak para pemilik kapal segera meningkatkan standardisasi kapal demi keselamatan penumpang.

Kata dia, jika tidak, para pemilik kapal siap-siap dipidanakan. Termasuk, kata dia mengecek alat kelengkapan kapal semisal selang BBM ataupun tempat penyimpanan BBM.

"Karena ini kapal tradisonal, yang paling rentan itu di mesin di daerah listrik. Tolong bapak cek, apa selangnya masih layak,  karena ini kaitannya dengan BBM. Kalau sudah rusak retak-retak itu, itu rentan terjadinya kebakaran. Kemarin saya naik satu kapal tradisional, itu ada drum bahan bakar ada di penumpang, itu ngga boleh." Kata Dirjen Hubla  Antonius Tonny Budiono, Senin (09/01).

Tonny menambahkan lokasi penyimpanan BBM pun harus tertutup rapat.

"Jadi lokasi BBM harus ada di lokasi BBM yang tertutup, jauh dari penumpang," ungkapnya.

Pengecekan kapal yang akan berlayar juga menjadi tanggungjawab para nakhoda kapal. Nakhoda harus mengecek setiap mesin,rompi pelampung untuk penumpang, hingga memastikan kembali manifes penumpang.

"Ada namanya Master Sailing Declaration (Surat Pernyataan Nakhoda-red). Kewajiban nakhoda menyatakan kapal yang akan berlayar itu layak. Jadi nakhoda harus mengecek kelayakan kapal. Jika ada hal-hal yang tidak layak, nakhoda harus melaporkan ke syahbandar. Syahbandar pun wajib mengecek," jelasnya.

Kapal Tradisional

Pembuat Kapal Tradisional Muslim mengkliam sudah membuat kapal tradisonal yang berstandar. Mulai dari perlistrikan, yang menggunakan kabel khusus laut yang tahan air dan tak mudah terbakar, hingga tata letak mesin dan penyimpanan solar atau bensin. Hal itu, kata dia untuk mencegah terjadinya korslet atau kebakaran kapal. Itu juga berlaku untuk kapal yang menyediakan AC.

"Jadi kapal misal panjangnya 30 meter. Jadi dari belakang sekitar 10 meter itu mesin. Sisanya nakhoda dan penumpang. (Kalau genset dilengkapi?) Saya dilengkapi, dan itu di atas tidak boleh di dalam. Di atas dek, kalau Zahro Express di dalam, dia pikir maunya bersih. Kalau korslet dia ngga tahu. Kalau kapal tradisional memang harusnya taro di atas, memang ya rada ruwer sedikit," ujarnya kepada KBR, Senin (9/1/2017).

Muslim mengaku selama 25 tahun membuat kapal, material yang digunakannya pun tidak sembarangan. Semisal tempat penyimpanan solar atau bensin yang terbuat dari drum besi. Drum besi, kata dia juga tak mudah terbakar dan lebih tahan lama. Penggunaan kabel, kata dia juga dibuat terbatas, hanya ada di kamar mesin. Itu digunakan sebagai penerangan saat malam. Saat ini, sudah ada 20an kapal yang sudah dibuat lelaki paro baya tersebut.

"Untuk bahan bakar ada yang solar dan bensin. Kalau saya menggunakan bensin, makanya ngga berani taro di dalam. Kalau di luar itu kan gampang, kalau kecelakaan itu langsung di buang. Biasanya penyimpanan bensin berada di belakang kapal, dekat WC, jauh dari mesin," ujarnya.

Muslim juga menakhkodai kapal menuju pulau seribu. Ada dua kapal yang dimilikinya, salah satu kapal, Harapan Express dikemudikannya sendiri. Menurut Muslim, saat hendak berlayar, biasanya pengecekan kapal dilakukan pihak Dinas Perhubungan. Sementara izin berlayar dari kesyahbandaran.

"Kalau Syahbandar mengecek manifes, dia bikinin izin berlayar, orangnya tidak ada yang jalan. Yang ngecek ketika mau berlayar adalah orang perhubungan. Kadang-kadang kelebihan muatan dia ngomel-ngomel, suruh turun. Tapi ada juga penumpang yang bandel. Tapi perhubungan turun tiap hari," ungkapnya.

Muslim mengaku terlibat pembuatan  kapal Zahro Express, namun hanya sebatas badan kapal. Kata dia, tidak termasuk penyediaan mesin, listrik dan lainnya. 


Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Pengungsi dan Persoalan Regulasi di Indonesia