Investor Sudah Siap, Pemerintah Optimistis Segera Bangun Industri Baterai

"Kami mengharapkan pengusaha di daerah harus menyiapkan diri untuk berkolaborasi dengan perusahaan asing yang ada untuk membangun industri hilirisasi pertambangan"

BERITA | NASIONAL | KABAR BISNIS

Rabu, 01 Des 2021 21:37 WIB

Author

Ranu Arasyki

Investor Sudah Siap, Pemerintah Optimistis Segera Bangun Industri Baterai

Aktivitas tambang ore nikel di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Rabu (6/11/2019). (Foto: ANTARA/Jojon/ama)

KBR, Jakarta - Pemerintah menggandeng sejumlah investor asing untuk membangun industri baterai yang akan digunakan sebagai komponen untuk kendaraan listrik di masa depan. Upaya tersebut dilakukan sejalan dengan percepatan hilirisasi nikel di sektor pertambangan.

Staf Ahli Bidang Peningkatan Daya Saing Penanaman Modal Kementerian Investasi/ BKPM Heldy Satrya Putera menjelaskan, investor (CATL) asal Tiongkok telah menyatakan kesiapannya untuk membangun pabrik baterai teringrasi.

Pembangunan itu akan dilaksanakan di akhir tahun ini menyusul groundbreaking yang telah dilakukan LG Energy Group Solution, Hyundai Motor Group, dan PT Industri Baterai Indonesia pada pembangunan pabrik baterai listrik di Karawang, Jawa Barat pada September lalu.

Baca Juga:

"Pemerintah sudah membawa beberapa investor untuk membangun industri batu baterai, di antaranya LG Energy Solutions Ltd. bekerja sama dengan Hyundai Motor Group. Mereka sudah siap untuk membangun dan berinvestasi sebesar US$9,8 miliar, Contemporary Amperex Technology (CATL) dari RRT juga siap membangun industri batu baterai terintegrasi," katanya pada Seminar Transformasi Perizinan Berbasis Risiko pada Sektor Pertambangan, Rabu (1/12/2021).

Menurut Heldy, hingga saat ini Indonesia masih menjadi negara penghasil nikel terbesar di dunia. Nikel menjadi bahan baku utama pembuatan baterai yang bakal menjadi komponen utama dari mobil listrik. 

Oleh karena itu, lanjutnya, Indonesia harus mampu memanfaatkan potensi sumber daya alam tersebut untuk memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

"Bapak menteri investasi sering menyatakan, dulu kita punya tambang minyak, tetapi lewat masa keemasannya. Kayu, kita banyak sudah lewat masa keemasannya. Sekarang kita punya nikel. Kita saat ini tidak mau lagi kehilangan masa keemasan kita untuk sumber daya alam nikel ini," tambahnya.

Heldy berpendapat, percepatan industri baterai itu tidak terlepas dari realisasi target investasi yang ditetapkan Presiden Joko Widodo senilai Rp1,2 triliun pada 2022. 

Selain itu, dia berjanji, BKPM akan menggandeng Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pelaku usaha lokal untuk bekerja sama dengan investor asing.

"Jadi kerja sama dengan pengusaha lokal itu juga menjadi tujuan utama kami. Kami mengharapkan pengusaha di daerah harus menyiapkan diri untuk berkolaborasi dengan perusahaan asing yang ada untuk membangun industri hilirisasi pertambangan," ujarnya.

Baca Juga:

Ekonomi Hijau & Biru

Untuk mencapai target realisasi investasi, BKPM akan fokus membangun ekonomi hijau dan ekonomi biru. Untuk ekonomi hijau, katanya, pemerintah akan mendorong produk hijau yang ramah lingkungan.

Di sektor ekonomi hijau, katanya, pemerintah akan mengakselerasi pertumbuhan lima industri prioritas, yakni industri farmasi dan alat kesehatan, otomotif, elektronik, infrastruktur, dan pertambangan.

"Untuk ekonomi hijau kita akan mendorong infrastruktur yang akan membagun kawasan industri untuk produk hijau yang ramah lingkungan. Kita juga akan membangun industri otomotif. Salah satu cara yang akan dilakukan mengubah teknologi untuk kendaraan otomotif menjadi teknologi baterai. kita juga akan mendorong pembangkit yang menggunakan energi hijau atau energi baru terbarukan," paparnya.

Sementara, untuk mendorong realisasi di sektor ekonomi biru, pemerintah akan menyasar pada pemanfaatan hasil-hasil laut. Saat ini, katanya, pemerintah telah menetapkan Provinsi Maluku sebagai lumbung ikan nasional.

Nantinya, pemerintah akan membangun pelabuhan khusus perikanan di provinsi tersebut dan menjadikannya sebagai industri terpadu pengolahan kekayaan hasil laut.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - KABAR BISNIS

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Membuat Minyak Goreng di Satu Harga