UANG BICARA: Perilaku Belanja Generasi Milenial dan Z

Karakter belanja tiap generasi menentukan strategi pemasaran

Jumat, 03 September 2021

KBR, Jakarta - Anak muda, khususnya generasi Z, lagi jadi incaran untuk dikepoin. Salah satu yang ingin tahu banget isi pikiran generasi yang lahir pada 1997-2012 itu adalah para pelaku usaha. Wajar sih, mengingat populasi gen Z ini besar, artinya pasar yang besar juga dong.

Hasil riset Hakuhodo Institute of Life and Living ASEAN (HILL ASEAN) pada Juni 2020 bisa jadi rujukan yang menarik soal perilaku belanja gen Z Asia Tenggara. Kenapa penting banget ya mengulik psikologi konsumen?

"Belanjanya bisa sama. Sama-sama beli handphone, tapi motivasi dia untuk memilih sebuah produk, sebuah feature itu dilandasi oleh emosional yang sangat berbeda masing-masing. Belanja itu adalah ujungnya doang. Yang lebih seru adalah kita pengin tahu kenapa mereka berbelanja," Kata Institute Director HILL ASEAN, Devi Attamimi.

HILL ASEAN melacak perilaku belanja gen Z dari cara mereka memandang diri dan relasi dengan lingkungan sekitar, juga bagaimana mendefinisikan kebahagiaan. Banyak temuan yang menggelitik dan mematahkan banyak anggapan tentang gen Z.

"Mitos yang paling sering kita dengar adalah gen Z selalu mementingkan diri mereka sendiri. Kesannya mereka sangat egois, terus mereka apatis dan tidak peduli. Melalui studi di HILL, kita bisa tahu bahwa generasi Z ini justru adalah generasi yang paling dekat dengan orang tuanya," terang Devi.

Institute Director of HILL ASEAN, Devi Attamimi. Foto: dok Hakuhodo Internasional

Devi menyajikan perbandingan antara gen Z dengan seniornya, generasi milenial (gen Y), yang saat ini menjadi penggerak ekonomi. Perilaku belanja dua kelompok muda ini ternyata berbeda.

"Mereka (gen Z) lebih menilai produk practicality dan functional benefit dibandingkan dengan yang penting keren-kerenan. Kalau milenial mereka lebih impulsif, mereka melihat apa bagus. Apalagi kalau influencer favoritnya mereka bisa langsung beli aja," tutur Devi.

Bagi milenial, kata kunci dalam belanja adalah pengalaman (experience).

"It’s all about experience. Hidup itu harus wah semua passion dicoba. Agak sedikit berbeda dengan gen Z. Gen Z lebih personal," ujar dia.

Sebagai generasi yang melek teknologi, gen Y dan Z aktif menggunakan media sosial. Namun, dalam membagikan informasi atau pengalaman, keduanya cenderung berbeda.

Gen Z rela membayar lebih mahal suatu barang jika punya kesesuaian dengan nilai yang mereka yakini.

Tak jarang Gen Z mengaitkan isu sosial/ lingkungan saat memilih barang. Sehingga mereka rela merogoh kocek lebih mahal jika barang yang dibelinya sesuai dengan nilai yang mereka pegang.

"Misalnya packaging-nya bisa di-recycle, mereka mau beli yang lebih mahal, karena mikirnya jauh lebih panjang, oh I'm doing something good for the earth," Devi mencontohkan.

Baca juga: Inspirasi Bisnis dari Visval

Penasaran dengan temuan lengkap dan rekomendasi dari HILL ASEAN soal tren belanja generasi milenial dan Z? Simak obrolan Reski Messanto bersama Devi Attamimi di Episode 22 Uang Bicara.