Bagikan:

Membersihkan Hati lewat Aksi Bersih Rumah Ibadah

Tapi kenyataannya banyak gereja dilarang berdiri dan kelompok minoritas masih jadi sasaran kekerasan.

INDONESIA

Senin, 27 Okt 2014 11:11 WIB

Membersihkan Hati lewat Aksi Bersih Rumah Ibadah

Indonesia, toleransi Berhati, rumah ibadah, Danu Mahardika KBR

Indonesia dulu kerap dipuji karena keberagaman dan toleransi antarumat beragamanya.

Namun perkembangan terakhir menunjukkan sebaliknya – gereja dilarang berdiri dan kelompok minoritas terus diserang.

Sekelompok anak muda Jakarta mencoba mengubah situasi ini dengan cara membersihkan rumah ibadah.

Di sebuah Vihara di Jakarta Barat, beberapa biksu sedang berdoa di depan altar. Di sudut ada patung Buddha raksasa yang dikelilingi lilin merah.

Baru-baru ini sekelompok anak muda datang ke sini untuk membersihkan vihara. Nama kelompok itu Berhati – singkatan dari Bersihkan Rumah Ibadah, Bersihkan hati. Agustinus Ardi Widiatmoko yang berusia 23 tahun, adalah koordinator komunitas.

“Kita selalu bilang ke tempat-tempat ibadah bahwa kita tidak akan terima apapun karena kita bukan lembaga sosial. Kita juga tidak bisa nyumbangin apa-apa karena kami sifatnya hanya bersih-bersih saja. Kita mau simple kok, kita datang, kita bersih-bersih, kita pulang.”

Kepala Vihara Yusak Li Sariputra sempat heran dengan kedatangan kelompok ini.

”Disediain minum, makan, snack saja mereka kerja. Bahkan tidak disediakan apapun mereka kerja. Makanya saya bilang, enggak, kita sediain makanan minuman snack. Jadi kita pas mereka mau datang ke sini, di dapur repot belanja macam-macam. Tidak apa-apa, kita bisa buat makanan secepat mungkin. Saya bilang terima kasih kita nggak bisa buat apa-apa. Mereka bilang terima kasih sudah diterima. Kan di sini yang perempuan-perempuan kan membersihkannya tidak seperti mereka sampai naik-naik gitu”

Tapi bukan hanya itu yang membuat Yusak terkesan.

“Di dalam itu saya lihat tidak semuanya orang-orang yang beragama Buddhis, atau mereka muslim, tapi bercampur baur. Saya lihat seperti itu. Dan mereka mengajarkan kita menghormati tempat ibadah. Dan mereka fanatismenya tidak ada jadi mereka masuk, mereka bersihkan, mereka bergabung.”

Komunitas Berhati tidak hanya membersihkan Vihara. Mereka juga mendatangi Masjid, Pura dan Gereja - seperti Gereja Katedral, Gereja Katolik tertua dan terbesar di Jakarta.

Pengurus Gereja Resti Nainggolan masih menyimpan kenang-kenangan yang diberikan komunitas itu usai bersih-bersih.

“Selesai acara mereka justru kasih kita souvenir berupa kaus tulisannya Berhati. Makanya kita bilang kamu yang kerja kok malah kasih kita souvenir. Harusnya kan kita yang memberi. Kata dia tidak bu ini buat kenang-kenangan, tanpa ada embel apa-apa. Makanya masih saya bercandain waktu itu. Ini ada U dibalik B tidak? Dia bilang tidak”

Mahasiswa bernama Stephanie Yuliana yang berusia 22 tahun bergabung dengan komunitas ini 3 bulan lalu. Sejak itu ia secara rutin ikut bersih-bersih di berbagai tempat ibadah.

“Saya melihat komunitas ini memiliki rasa toleransi, kekeluargaan, kebersamaan. Dan juga komunitas ini bersifat universal tanpa memandang suku , ras, agama. Jadi kita bisa bergabung di komunitas ini dan mengikuti kegiatannya. Dan juga untuk bersihkan hati melalui ibadah ini. Ibadah ini kita ibaratkan melalui bersih-bersih rumah ibadah.”

Komunitas ini terbentuk tahun lalu. Dan sampai sekarang mereka sudah membersihkan lebih dari 150 rumah ibadah di Jakarta dan sekitarnya. Saat ini anggota komunitas mencapai 80 orang, kata koordinator komunitas Berhati, Ardi.

“Ada banyak juga yang mereka nimbrung, mereka langsung ganti baju, pakai celana pendek lalu ikut gabung bersh-bersih. Nah yang kita senang itu seperti itu. Sampai ada beberapa yang tanya “kapan mas next nya, nanti calling-calling  saja.” Kita anak-anak muda mau ngebantuin kok. Di sini masih banyak Masjid-masjid atau Gereja-gereja yang butuh perhatian. Kita malah senengnya yang model seperti itu.”

Salah satu anggota yang bergabung saat acara bersih-bersih adalah Anugrah Pandu Satrio, yang berusia 23 tahun dan bekerja di sebuah biro iklan.

“Dulu sempet ngelihat juga. Dia ada di lingkungan Masjid sekitar rumah saya. Terus saya lihat ini apa sih. Oh ini tuh ternyata komunitas yang suka bersih-bersih rumah ibadah. Terus saya tanya-tanya, oh ternyata bagus juga ya misinya dia.”

Setiap 2 minggu sekali mereka mengunjungi berbagai rumah ibadah untuk bersih-bersih.

“Kita itu mencar saja. Misalnya yang Muslim ngebersihin yang Katholik, yang Katholik ngebersihin Pura. Jadi ibaratnya ini tempat ibadah tidak seperti oh ini tempat ibadah saya. Jadi kita bercampur saja. Toh sekarang mungkin banyak komunitas yang seperti kita. Tapi kalau komunitas kita ini lebih pengen nunjukin ini loh toleransi antar umat beragama kita. Kita sama memberi contohlah buat yang lain”

Tapi kegiatan mereka tak selamanya berjalan lancar.

“Ada beberapa yang nanyain kalian dari partai apa nih, dari perusahaan mana nih. Ya kita tahu juga lah mungkin mereka ada yang takut kalau misalnya menerima kita nanti malah gimana-gimana. Tapi kita positif aja sih. Kalau memang mereka tidak terima maka kita akan cari yang lain. Intinya kita sudah menyampaikan permohonan untuk membersihkan rumah ibadah itu dan terima atau tidak itu keputusan mereka. Kita tetap hargain kok”

Tahun ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima penghargaan World Statesman Award karena dianggap berhasil menjaga kerukunan antarumat beragama.

Tapi kenyataannya banyak gereja dilarang berdiri dan kelompok minoritas masih jadi sasaran kekerasan.

Banyak yang mengatakan negara gagal melindungi kebebasan beragama masyarakat. Tapi menurut Pandu, komunitas ini telah membuka matanya.

“Saya Muslim. Dari SMA saya sekolah Islam, kuliah juga sekolah Islam. Selama kegiatan ini berlangsung, saya sekarang melihat orang tidak dari agamanya apa, dari suku mana. Pernah saya ditanya, Ndu lu orang mana? Padang ya? Saya iyain aja. Padahal bukan. Jadi saya mau meratakan semua kalau saya ini orang Indonesia.”

Resti Nainggolan mengatakan aksi sederhana seperti ini bisa membantu memulihkan keharmonisan hubungan antarumat beragama di Indonesia.

“Harus ditumbuhkan sejak dini ya. Ya dengan cara seperti itu saya kira. Jadi tidak merasa jijik masuk ke tempat ibadah yang bukan agamanya dia. Image seperti itu harus kita buang jauh-jauh. Dari situ sejak dini kita tumbuhkan toleransi seperti itu, bagus perkembangan ke depannya.”

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Ikhtiar Sorgum untuk Substitusi Gandum

Most Popular / Trending