Bagikan:

Bekas Prajurit Anak Burma Berjuang Membangun Hidup Baru

Bulan lalu, tentara Burma membebastugaskan 68 prajurit anak dari jajarannya.

INDONESIA

Sabtu, 28 Sep 2013 14:01 WIB

Author

ZawHtet DVB

Bekas Prajurit Anak Burma Berjuang Membangun Hidup Baru

Burma, bekas prajurit anak, DVB

Bulan lalu, tentara Burma membebastugaskan 68 prajurit anak dari jajarannya.

Dengan begitu sudah total 176 anak kembali ke keluarga mereka.

Ini menyusul perjanjian yang ditandatangani Pemerintah Burma untuk mencegah perekrutan pasukan anak-anak pada 2012.

Bekas tentara anak itu banyak yang sudah beranjak dewasa tapi kesulitan beradaptasi dengan masyarakat.

Salah satunya Aye Win.

Ketika dia berumur 16 tahun dan gagal dalam ujian, dia lantas mau bergabung dengan militer.

Kata pamannya, ini kesempatan karir yang bagus, karena dia bisa jadi ahli mekanik bagi tentara.

“Banyak calon anggota yang dibujuk dengan cara itu. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak, cacat mental atau cacat fisik – ada segala macam di tentara.

Setelah bertugas di tentara selama setahun, dia berhasil kabur.

Kini dia sukarelawan guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah amal.

“Sebetulnya tentara menjamin kesejahteraan bekas tentara anak, tapi itu jarang terjadi. Kebanyakan mereka berakhir di rumah sakit dalam kondisi cacat, dan hidup dari belas kasihan para dermawan. Dan angkatan bersenjata tidak berbuat banyak untuk membantu mereka.”

Soe Thiha Win juga seorang prajurit anak.

Organisasi Buruh Internasional memberinya modal untuk memulai satu toko buah.

Dia sangat menderita, tapi dia tak mendapat bantuan apa pun dari pemerintah maupun militer.

“Ada banyak prajurit yang lebih muda dari saya, misalnya umur 15 atau 16 tahun. Dan banyak yang masih bertugas di sana. Meski masih muda, mereka ditugaskan membawa alat-alat yang terlalu berat untuk usia mereka. Ini sangat menyiksa.”

Putra U Ba menjadi korban ranjau darat saat bertugas. Saat itu putranya berumur 16 tahun.

“Dia kehilangan kakinya dan menderita luka-luka cukup parah. Tapi tentara hanya memberikan dua mangkok sup ayam dan obat-obatan Cina. Kondisinya membaik setelah kami membawanya ke Palang Merah Internasional. Saya berharap pemerintah memberikan dia kesempatan kerja atau Organisasi Buruh Internasional bisa merehabilitasi dia.”

Para aktivis menginginkan pemerintah bertanggungjawab atas nasib bekas prajurit anak-anak dan menyediakan sarana rehabilitasi.

Thet Wei aktivis yang memperjuangkan nasib prajurit anak di bawah umur dari ILO Myanmar.

“Ini adalah surat rekomendasi kami. Intinya, mendorong pemerintah untuk merehabilitasi tentara anak yang meninggalkan tugas, dan menyediakan bantuan untuk pemulihan trauma mental dan fisik.”

Sekembalinya ke rumah, Aye Min kembali ke bangku sekolah...

Tapi ini tak mudah.

“Hidup bersama orangtua sangat berbeda dengan kehidupan militer. Sekarang tidak ada lagi hak-hak prajurit.”

Tidak ada data pasti berapa jumlah tentara anak yang masih bertugas, termasuk di pasukan militer kelompok etnis di penjuru Burma.

Tapi satu yang pasti, mereka tak dapat bantuan dari pemerintah atau militer untuk mengatasi luka mental dan fisik mereka. Atau bantuan rehabilitasi untuk kembali mendapatkan pekerjaan.



Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 7

Ekonomi Indonesia di Tengah Bayang-Bayang Ketidakpastian Global

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending