Pro Kontra Film Satir Agama Aamir Khan di India

Beberapa kelompok Hindu telah mengajukan tuntutan terhadap para pemain dan kru film itu dengan tuduhan mereka melakukan penghujatan.

INDONESIA | CERITA

Jumat, 17 Jul 2015 13:00 WIB

Author

Bismillah Geelani

Pro Kontra Film Satir Agama Aamir Khan di India

India, PK, Hindus, Film, Bismillah Geelani

Di luar sebuah bioskop yang ramai di New Delhi, puluhan aktivis dari kelompok nasionalis Hindu Bajrang Dal memprotes film yang sedang diputar di bioskop itu, berjudul "PK".

Mereka membakar patung artis Bollywood ternama Aamir Khan, yang menjadi pemain utama dalam film itu.

Vikas Sharma adalah salah satu pengunjuk rasa.

“Dia menghina Dewa dan Dewi kami. Pemeluk Hindu tidak akan mentolerir ini. Kami tidak akan biarkan film ini diputar dimana pun dan akan menyerang tempat yang memutarnya. Ini kami lakukan sampai film itu dilarang,” ujar Vikas

Protes serupa terjadi di beberapa negara bagian dan beberapa bioskop telah dirusak.

Film ini bercerita tentang alien yang datang ke bumi untuk misi penelitian. Alien itu tidak bisa kembali ke planet asalnya setelah remote control pesawat ruang angkasanya dicuri.

Saat mencari alat itu, orang-orang yang ditemui sang alien mengatakan padanya hanya Tuhan yang bisa membantunya menemukan remote itu.

Dia pun memulai perjalanan untuk menemukan Tuhan dan dalam perjalanannya itu dia menemukan berbagai praktik, dogma dan takhayul yang berhubungan dengan agama. Dan dia pun mempertanyakan hal-hal itu.

Dia menemukan kebanyakan orang yang mengklaim mengenal Tuhan dan bisa membantu orang lain menemukan Tuhan, sebenarnya menipu dan menyesatkan masyarakat.

Pemimpin Agama Hindu Swaroopanand Saraswati mengaku sangat tersinggung ketika ada aktor Muslim yang menemukan kesalahan dalam kepercayaannya.

“Bagaimana mungkin seseorang yang tidak tahu apapun tentang agama kami membuat film tentang itu. Jika ada orang yang bilang ada yang salah dengan agama Hindu, kami akan menyelesaikannya sendiri. Muslim tidak perlu repot-repot melakukannya. Mereka tidak punya hak,” katanya.

Pelatih Yoga Baba Ramdev mengatakan ada standar ganda di sini.

“Orang-orang berpikir sepuluh kali sebelum membuat komentar tentang agama Kristen atau Islam. Tapi bila terkait Hindu, semuanya merasa bebas. Siapa saja bisa mengatakannya, melakukan atau menunjukkannya. Ini sangat serius. Dan orang-orang terlibat dalam hal ini harus diboikot dan tidak ada yang boleh menonton film mereka.”

Beberapa kelompok Hindu telah mengajukan tuntutan terhadap para pemain dan kru film itu dengan tuduhan mereka melakukan penghujatan.

Tapi kebanyakan orang yang terkait dengan film ini, termasuk produser dan sutradara, beragama Hindu dan mereka menolak keras tuduhan itu.

Parikesit Sahni adalah aktor veteran dan ikut bermain dalam film itu.

“Saya sendiri orang yang sangat religius dan pemeluk Hindu. Saya tidak akan terlibat dalam film ini jika ada sesuatu yang bersifat menyerang di dalamnya. Saya pikir orang-orang yang menentang film ini belum menontonnya atau tidak memahaminya. Film ini mengkritik orang-orang yang disebut Guru, yang menyesatkan orang atas nama agama. Dan orang-orang seperti itu jumlahnya cukup banyak dan beberapa saat ini dipenjara dengan kasus serius seperti pemerkosaan,” kata Parikesit.

Kontroversi ini telah memberikan publisitas gratis kepada masyarakat dan mereka pun berbondong-bondong menonton film itu.

Seorang pengusaha bernama Sahil Khanna mengaku menyukai film ini.

“Ini adalah film yang bagus, film terbaik yang pernah dibuat. Setelah sekian lama, kita bisa melihat sebuah film yang mengangkat isu yang penting saat ini,” katanya.

Pemimpin Hindu reformis seperti Swami Agnivesh telah mendesak pemerintah untuk mempromosikan film dan membuatnya bisa ditonton lebih banyak orang.

“Film seperti ini mengguncang kesadaran sosial dan memicu debat publik di berbagai lapisan masyarakat. Film ini memunculkan kemarahan ilmiah, reformasi dan semangat untuk menyelidiki. Yang harus kita lihat sekarang bukan hanya soal kelarisan film ini dan analisa teknis oleh kritikus film, tapi kita harus mengubah kesadaran ini menjadi sebuah revolusi sosial. Tujuannya agar masyarakat memahami kekacauan yang mereka alami atas nama agama dan menjauhkan mereka dari jalan Tuhan,” bela Agnivesh.

Dua negara bagian sejauh ini telah menyatakan film itu bebas pajak sehingga harga tiketnya lebih murah sehingga lebih terjangkau. Sementara negara bagian lain berencana melakukan hal serupa.
 
Dewan Sertifikasi Film menolak permintaan kelompok Hindu untuk meninjau dan menyensor film itu.

Dewan menyatakan film itu sudah sesuai proses hukum dan anggotanya tidak menemukan sesuatu yang salah dalam kontennya.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN