Bagikan:

Kapal AL Amerika Serikat Kandas di Perairan Situs Warisan Filipina

Angkatan Laut Amerika Serikat berencana untuk membongkar Kapal Angkatan Laut yang kandas di terumbu karang perairan Filipina, yang sudah dinyatakan sebagai situs warisan dunia.

INDONESIA | CERITA

Selasa, 26 Mar 2013 21:01 WIB

Kapal AL Amerika Serikat Kandas di Perairan Situs Warisan Filipina

Filipina, kapal perang, Amerika Serikat, terumbu karang, Jofelle Tesorio

Kapal USS Guardian kandas di atas salah satu wilayah terumbu karang paling beragam di Filipina. 

Awalnya, para petugas Amerika Serikat ingin menyelamatkan kapal itu. Tapi sekarang mereka mengaku bakal membongkar dan mengangkutnya sedikit demi sedikit. 

Pimpinan Gugus Tugas Tubbataha Komandan Efren Evangelista akan berkoordinasi dengan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk pemindahkan kapal itu.  

“Sekarang ini mereka masih tahap persiapan untuk memindahkan peralatan jinjing yang ada di atas kapal. Setelah itu mereka akan memindahkan kapal dengan cara membongkarnya. Jadi mereka sedang menunggu derek yang akan mengangkat berbagai bagian kapal itu.”

Prioritas utamanya adalah untuk mengurangi kerusakan yang lebih besar di situs warisan dunia PBB ini. 

Terumbu karang Tubbataha adalah wilayah bawah laut dengan kehidupan laut yang paling beragam di Filipina. 

Daerah ini merupakan daerah penting bagi perkembangbiakan biota laut  yang menopang wilayah pemancingan di Malaysia dan Indonesia. 

Direktur Eksekutif Taman Laut, Angelique Songco mengatakan, kapal Amerika Serikat tidak punya izin untuk masuk ke daerah yang dilindungi itu. 

“Salah satu peraturan pertama yang dilanggar adalah bagian No.19, soal masuk ke wilayah tanpa izin. Dan bagian lainnya bagian 30 yaitu menghalangi petugas keamanan. Kami merasa para petugas kami dihalangi jadi tidak bisa melakukan tugas mereka,  karena perilaku orang-orang Amerika ketika mereka datang ke sini. Pelanggaran besar lainnya adalah bagian 20, yaitu perusakan karang.”

Dan pemerintah Filipina menyatakan akan membuat Angkatan Laut Amerika Serikat membayar segala kerugian yang disebabkan insiden ini. 

LSM lingkungan Greenpeace didenda hampir Rp 70 juta setelah kapal mereka, Rainbow Warrior II,  kandas di wilayah terumbu karang yang sama.  

Angatakan Laut Amerika Serikat sedang menginvestigasi soal mengapa kapal mereka tersesat dan menyatakan hal ini mungkin terjadi karena peta navigasi digital mereka  tidak akurat. 

Segundo Conales adalah penjaga taman laut di wilayah Terumbu Karang Tubbataha. 

“Menurut saya, Angkatan Laut Amerika Serikat tidak punya peta wilayah Tubbataha yang terbaru, yang menunjukkan batas-batas laut yang boleh mereka dilewati. Meski mereka punya peralatan navigasai yang modern, semestinya mereka punya peta terbaru.”

Denda mencapai sekitar Rp 3 juta per meter per segi terumbu karang yang rusak. 

Dan Penjaga Laut Filipina terus mengawasi daerah itu...kata Perwira Angkatan Laut  Efren Evangelista.

“Mereka sudah mengirim ahli biologi. Setiap hari kami mengambil sampel air dari daerah itu, dan kami mengawasi kegiatan apa saja yang dilakukan di daerah itu. Kami mengadakan patroli bersama dengan para penjaga laut, juga dengan rekan-rekan Angkatan Laut Amerika Serikat.”  

Filipina dan Amerika Serikat punya hubungan militer yang erat. Mereka pun rutin melakukan latihan bersama. 

Tentara Filpina dengan cepat menyepelekan dampak dari insiden ini. 

Letnan Jenderal Juanco Sabban adalah kepala komando militer Palawan. 

“Menurut saya ini adalah kecelakaan kecil dan masih diinvestigasi. Ini tidak akan berdampak pada hubungan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat dan Angkatan Bersenjata kami. Dulu mereka pernah melakukan beberapa kesalahan dan kami bisa langsung mengklaim kerusakannya. Selama latihan bersama pernah terjadi kesalahan  yang tidak sengaja dilakukan oleh Amerika Serikat, dan mereka pun membayar kerugiannya.” 

Terumbu Karang Tubbataha berada di Laut Sulu dan bersebelahan dengan banyak wilayah yang diperebutkan di Laut Cina. 

Filipina mengganggap Amerika Serikat sebagai sekutu utama yang bisa melindunginya dari Cina. 

Meski tentara Filipina dengan cepat ingin melupakan insiden ini, sejumlah kelompok lingkungan mengatakan sedikitnya 1000 meter per segi terumbu karang sudah rusak. 

Direktur Eksekutif Taman Laut Tubbataha, Angelique Songco kembali menegaskan pentingnya melindungi terumbu karang. 

“Tubbataha bukan saja milik Filipina. Filipina sudah berjanji kepada seluruh dunia untuk mengambil sumber daya yang tidak tergantikan itu, karena kami ingin mewariskannya kepada generasi berikutnya di masa mendatang.”

Angkatan Laut Amerika Serikat bersedia membayar kerugiannya, tapi butuh bertahun-tahun untuk memulihkan terumbu karang itu.

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7