Bagikan:

Pesan Paus Fransiskus: Umat Katolik Jangan Beranak Pinak

Dia mengatakan orangtua punya tanggung jawab moral untuk membatasi jumlah anak-anak mereka.

INDONESIA

Senin, 26 Jan 2015 13:25 WIB

Pesan Paus Fransiskus: Umat Katolik Jangan Beranak Pinak

Filipina, Paus Fransiskus, pengendalian kelahiran, Gereja Katolik, Madonna T. Virola

Beberapa tahun lalu, Glyzelle Palomar yang berusia 12 tahun harus mengemis untuk mendapatkan makanan di Manila.
 
Hari ini dihadapan  ribuan orang, dia bertanya pada pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus.
 
“Banyak anak yang diabaikan orangtuanya sendiri. Banyak anak yang mengalami hal buruk seperti menjadi korban narkoba atau prostitusi. Mengapa Tuhan membiarkan hal seperti itu terjadi, bahkan bila itu bukan salah sang anak?” kata Glyzelle. 
 
Paus Fransiskus kemudian memeluk Gyzelle dan seorang anak laki-laki lain yang dulunya tinggal di jalanan.
 
“Dia satu-satunya yang bertanya tentang hal yang tidak ada jawabannya. Dia bahkan tidak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata melainkan dengan air mata,” jawab Paus.

Ini membuat orang-orang yang hadir di sana bahkan yang sedang menonton acara itu di depan telivisi di seluruh negeri, ikut menangis.

Anak-anak itu kini dirawat Yayasan Tulay ng Kabataan, sebuah LSM yang merawat anak-anak jalan di Manila.

Paus Fransiskus datang membawa pesan Belas Kasih bagi orang miskin. Tapi beberapa hari sebelum kedatangan Paus, ada media yang melaporkan kalau sedikitnya 100 keluarga gelandangan disingkirkan dari jalanan Manila.
 
Pemerintah mengatakan pada Majalah TIME kalau mereka dibawa ke sebuah resor yang jaraknya satu setengah jam dari kota.
 
Perjalanan itu dilakukan oleh Kementerian Kesejahteraan Sosial yang mengklaim langkah itu dilakukan agar keluarga-keluarga miskin itu tidak dimanfaatkan oleh sindikat bergaya gangster selama kunjungan Paus.
 
Tapi bagi Yayasan Bahay Tuluyan, alasan ini terdengar aneh.
 
“Kami sangat kecewa karena orang-orang yang tinggal di jalanan tidak bisa ikut serta dalam perayaan itu. Ini berujung pada makin dipinggirkannya orang-orang yang hidup di jalanan. Kami juga kecewa dengan fakta kalau pemerintah berupaya menyangkal kalau kegiatan semacam ini terjadi,” kata Catherine Scerri, Deputi Direktur Yayasan itu.
 
Tapi kontroversi itu tidak mengurangi jumlah masyarakat yang mau melihat Paus Fransiskus. Paus berkeliling dengan sebuah minibus yang dikenal dengan jeepney dan bertemu dengan umat yang bersorak-sorai.
 
Masyarakat rela menempuh perjalanan berhari-hari untuk bisa melihat Paus dan banyak diantaranya harus berkemah semalaman agar bisa dapat tempat dalam perayaan.
 
Lolita Estoque datang dari Provinsi Mindoro bersama kelompok difabel dari Gerejanya.
 
“Meski tidur di atas perahu tapi kami sangat senang. Awalnya saya kurang enak badan tapi saya langsung merasa kuat saat melihat Paus. Dia merangkul seorang anak yang tidak punya kaki dan tangan. Dia sangat peduli pada orang miskin,” tutur Lolita.

Orang Filipina punya disiplin tinggi bila berada dalam keramaian. Tapi kali ini mereka meninggal sampah yang luar biasanya banyaknya.
 
Pastor Wilfredo Villas menjelaskan mengapa Paus Fransiskus sangat populer.

“Rakyat kami mencari seseorang yang bisa membawa harapan yang sebenarnya. Rakyat kami telah lama kecewa dengan para pemimpin kami baik dalam pemerintahan maupun Gereja. Rakyat ingin seseorang yang bisa memberikan kepastian soal iman dan penderitaaan mereka,” jelas Pastor Wilfredo.

Dalam perjalanan pulangnya, Paus Fransiskus ditanya soal pengendalian kelahiran. Dia mengatakan orangtua punya tanggung jawab moral untuk membatasi jumlah anak-anak mereka.

“Tuhan memberi kita metode untuk bertanggung jawab. Beberapa orang berpikir, maaf jika saya menggunakan kata ini, untuk menjadi Katolik yang baik kita harus menjadi seperti kelinci. Bukan itu, tapi orangtua yang bertanggung jawab,” kata Paus Fransiskus.

Penggunaan kontrasepsi di Filipina adalah masalah yang sangat kontroversial. Pemerintah baru-baru ini menyetujui undang-undang yang mempermudah masyarakat mendapatkan kontrasepsi. UU ini sangat ditentang para Uskup Katolik.

Pengacara HAM, Clara Rita Padilla, berpendapat posisi Gereja dalam pengendalian kelahiran mendorong lebih banyak keluarga dalam kemiskinan.

“Di Filipina, setengah dari seluruh kehamilan sebenarnya tidak diinginkan. Masyarakat tidak punya akses ke metode kesuburan yang tepat. Ada 11 perempuan Filipina meninggal setiap hari karena melahirkan dan komplikasi persalinan. Ada masalah dimana anak usia 15 sampai 19 sudah melahirkan anak,” kata Clara Rita.

Selain menyerukan orangtua untuk 'bertanggung jawab', Paus juga menegaskan larangan Gereja terhadap pengendalian kelahiran buatan. Dia mengatakan ada banyak cara alami yang disetujui Gereja agar perempuan tidak hamil.
 
“Langkah selanjutnya untuk mendorong kebebasan berpikir, hati nurani dan agama. Dimana seorang Katolik akan merasa bebas untuk menggunakan kontrasepsi sebagai alat untuk mengontrol kesuburan. Karena kontrasepsi dianggap sangat efektif dalam mengendalikan kesuburan seseorang. Hak untuk privasi dan kesetaraan berarti setiap individu harus punya kebebasan untuk menggunakan kontrasepsi,” lanjut Pengacara Clara Rita Padilla.

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Ketika Pimpinan KPK Tersandung Masalah Integritas

Most Popular / Trending