Bagikan:

Jumlah Pabrik Terus Berkurang, Jawa Barat Tak Bisa Swasembada Gula

Dari delapan pabrik, tinggal dua pabrik. Akibatnya produksi gula tahunan di Jawa Barat paling kecil dibanding dengan daerah lainnya. Padahal kebutuhan gula di Jawa Barat cukup tinggi.

NUSANTARA

Kamis, 23 Jun 2022 23:11 WIB

Author

Frans Mokalu

swasembada gula

Ilustrasi. Pekerja memanen tebu untuk produksi gula. (Foto: ANTARA/Prasetia Fauzan)

KBR, Cirebon – Jumlah pabrik gula (PG) di Jawa Barat terus berkurang. Dari semula ada delapan pabrik, kini hanya tersisa dua pabrik gula.

Kebutuhan gula di Jawa Barat tidak bisa dipenuhi oleh daerah. Dari sekitar 500 ribu sampai 600 ribu ton kebutuhan gula per tahun, PG Rajawali II hanya bisa memenuhi sekitar 15 persennya saja.

Hingga kini, dari dua pabrik yang tersisa di Jawa Barat, pada tahun 2020 lalu hanya bisa menghasilkan sekitar 45 ribu ton gula dan di tahun 2021 sebanyak 54 ribu ton.

Di tahun 2022, PG Rajawali akan meningkatkan produktivitas gula hingga 72 ribu ton.

Direktur Keuangan dan Supervisi PT PG Rajawali II Oksan Pangabean mengatakan, Jawa Barat sebenarnya merupakan penyangga pasokan gula di Banten dan Jakarta.

Untuk memenuhi kekurangan tersebut, pihaknya masih mengandalkan impor dan pasokan dari daerah lain.

"Kita masih didukung pasokan dari impor dan wilayah Sumatera. Selama ini, untuk memenuhi kekurangan kebutuhan di Banten dan Jakarta dari situ," katanya, Kamis (23/6/2022).

Baca juga:


Oksan Pangabean mengatakan walaupun tahun 2022 ini di Jawa Barat ditargetkan menghasilkan sebanyak 72 ribu ton gula, namun jumlah itu masih sangat kurang.

"Target kita 72 ribu ton ada peningkatan sekitar 15 persen, itu pun masih kurang jauh," imbuhnya.

Meski begitu, Oksan Pangabean masih optimistis. Walaupun pabrik gula tersisa hanya dua pabrik, namun peluang untuk memenuhi kebutuhan gula di Jawa Barat masih terbuka lebar.

"Saya yakin peluang untuk itu masih terbuka lebar. Dari delapan sekarang pabrik gula tersisa dua pabrik, tantangannya sekarang bukan pada intensifikasi tapi di ekstensifikasi bagaimana perbaikan varietas dan budidaya," ujarnya.

Ketua DPD Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jawa Barat Dudi Bahrudin mengatakan, dari zaman Belanda hingga kini pabrik gula di wilayahnya tidak pernah direvitalisasi.

"Pabrik gula tinggal dua, kapan ada perbaikan pabrik peninggalan Belanda. Sementara, pabrik itu dibangun sekitar tahun 1886, sampai sekarang belum direvitalisasi," katanya.

Ia menambahkan, dengan jumlah pabrik gula yang sekarang menjadikan Jawa Barat sebagai wilayah yang paling sedikit menghasilkan gula dibanding daerah lainnya di Indonesia. Sementara, kebutuhan gula di wilayah ini termasuk tinggi.

"Produksi tahunan gula di Jawa Barat paling kecil dibanding dengan daerah lainnya. Padahal Jabar merupakan salah satu provinsi besar di Indonesia," katanya.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?