Teguran dari Pandeglang

Sejak Indonesia Tsunami Early Warning System dibentuk pada 2008 dengan bantuan 5 negara donor, kiprahnya dalam mitigasi bencana kerap disorot. Banyak peralatan pendeteksi tsunami rusak atau dicuri.

OPINI , EDITORIAL

Senin, 24 Des 2018 02:17 WIB

Author

KBR

Suasana pascatsunami Banten

Suasana pasca tsunami di kawasan Banten, Minggu (23/12). Peristiwa itu mengakibatkan sejumlah kerusakan dan korban jiwa. (Foto: Antara/Dian Triyuli Handoko).

Pekan lalu, Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB)  mencatat 2018 sebagai tahun bencana paling mematikan di Indonesia dalam 11 tahun terakhir. Tahun ini ada lebih dari 2 ribu bencana, dengan dampak lebih dari 4 ribu orang meninggal atau hilang.

Bencana tahun ini rupanya belum berakhir. Tsunami mengguncang daratan di sekitar Selat Sunda. Jumlah korban tewas mencapai lebih dari 100 orang. Terbanyak di Pandeglang Banten. 

Gempa dan tsunami merupakan bencana yang kerap menyebabkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar. Karena itu diperlukan sistem mitigasi  untuk mengurangi dampak, termasuk sistem peringatan dini bencana. 

Sejak Aceh dilanda gempa dan tsunami 2004, kebutuhan akan sistem peringatan dini bencana menjadi tidak terelakkan. Namun masalah ini ternyata lebih pelik dari benang ruwet. 

Sejak Indonesia Tsunami Early Warning System dibentuk pada 2008 dengan bantuan 5 negara donor, kiprahnya dalam mitigasi bencana kerap disorot. Banyak peralatan pendeteksi tsunami rusak atau dicuri. 

Banyak warga tak mendengar bunyi sirine bahaya ketika gempa kuat mengguncang Mentawai terjadi 2016. Sementara pada bencana gempa Palu, BMKG  terlalu cepat mencabut status peringatan dini tsunami. Korban di Palu mencapai 800 orang. 

Pandeglang memberi peringatan baru: tsunami tak harus didahului gempa gesekan lempeng tektonik. Juga bisa karena peristiwa erupsi gunung api yang menyebabkan longsor di bawah laut. BMKG pun tak mampu mendeteksi ancaman tsunami itu. Apakah sistem peringatan dini tsunami sudah mengantisipasi ini? Sementara kita belum beres dengan banyaknya alat deteksi rusak. 

Dunia kembali menyoroti kegagalan kita memaksimalkan teknologi untuk mengurangi dampak bencana. Jadi cukup sudah saling tuding dan menyalahkan. 

Kini saatnya segera bertindak: bereskan segera sistem mitigasi bencana yang masih amburadul. Ganti pejabat lalai, ganti dengan yang lebih bertanggung jawab. Prioritaskan perawatan dan penjagaan alat deteksi tsunami. Demi nyawa kita semua.  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Cek Fakta Top 5 Hoax of The Week 7-13 September 2019

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Presiden Tegas Tetapkan Darurat Nasional Kabut Asap

Kabar Baru Jam 15