PT Pos dan Gerakan Literasi

Biaya yang dikeluarkan sudah melebihi plafon tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari PT Pos. Bahkan ada kemungkinan perusahaan BUMN ini merugi ketika diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

OPINI | EDITORIAL

Kamis, 15 Nov 2018 06:20 WIB

Author

KBR

PT Pos dan Gerakan Literasi

Upaya meningkatkan minat baca masyarakat, sejumlah siswa membaca buku di mobil perpustakaan, Tegal, Jawa Tengah, Selasa (2/10). (Foto: Antara/Oky Lukmansyah)

Kalangan pegiat literasi di tanah air tengah gundah. Bulan ini kemungkinan tidak ada lagi pengiriman buku secara gratis dari para relawan dan donatur melalui PT Pos Indonesia.

Sejak Mei tahun lalu, setiap tanggal 17, PT Pos sudah mengirimkan secara gratis paket kiriman buku ke pelosok negeri. Sudah lebih dari 280 ton buku disebarkan ke berbagai penjuru untuk meningkatkan pengetahuan dan kecerdasan anak bangsa. Total anggaran yang dihabiskan PT Pos mencapai Rp13 miliar lebih.

Ini merupakan amanat Presiden Joko Widodo  ketika menyambut Hari Buku Nasional 17 Mei tahun lalu. Sayangnya, PT Pos kini kesulitan anggaran hingga program pengiriman buku gratis itu dihentikan sementara. Biaya yang dikeluarkan sudah melebihi plafon tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari PT Pos. Bahkan ada kemungkinan perusahaan BUMN ini merugi ketika diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) .

Lebih dari 4000 orang menandatangani petisi yang dibuat para pegiat literasi, terutama jaringan Pustaka Bergerak yang digerakkan para relawan. Mereka mendorong agar program ini tetap ada. Sampai saat ini tingkat budaya literasi Indonesia masih sangat rendah. Bahkan penelitian internasional pada 2012 menyebut, Indonesia berada di peringkat terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti. Badan PBB UNESCO juga menyebut indeks minat baca di Indonesia sangat rendah, 0,001. Artinya, dari seribu orang penduduk, hanya satu orang yang punya minat baca.

Minimnya upaya peningkatan literasi di tanah air juga menunjukan para pejabat, birokrat hingga kepala daerah di negeri ini tidak memahami pentingnya literasi untuk menghadapi berbagai tantangan abad ini.

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme