Proyektor Keliling, Melawan Propaganda Kebohongan

Ada banyak cara mempelajari isu-isu HAM, korupsi, toleransi, nasib buruh migran dan persoalan lingkungan. Salah satunya dengan menonton film.

EDITORIAL

Kamis, 22 Mei 2014 09:37 WIB

Author

KBR68H

Proyektor Keliling, Melawan Propaganda Kebohongan

proyektor kelililing, propaganda, ham, Engage Media

Ada banyak cara mempelajari isu-isu HAM, korupsi, toleransi, nasib buruh migran dan persoalan lingkungan. Salah satunya dengan menonton film. Ide ini digagas Engage Media. Sepanjang bulan ini mereka akan hadir di 11 kota di Pulau Jawa dalam kegiatan yang diberi judul ‘Proyektor Keliling’.

Proyektor Keliling ini lahir dari ide untuk menyebarkan pengetahuan soal  HAM, korupsi, toleransi, dan buruh migran ke semua masyarakat. Terutama masyarakat yang ada di kawasan pelosok. Puluhan video itu dibuat oleh buruh, masyarakat termajinalkan dan masyarakat umum.

Engage Media merangkul  pembuat film independen, aktivis video, teknolog dan juru kampanye gerakan sosial untuk memperluas jangkauan dan menggerakkan para pemirsanya.

Film bisa digunakan untuk membuka atau malah menutupi kebenaran. Rezim Orde Baru paham benar dengan dampak yang bisa ditimbulkan oleh sebuah film. Anda masih ingat dengan film Pengkhianatan G30S/PKI?  Film ini menjadi salah satu film yang berhasil menyedot penonton terbanyak. Data Peredaran Film Nasional menyatakan film ini menjadi yang terlaris di Jakarta pada 1984, dengan jumlah penonton hampir 700 ribu orang.

Para pelajar digiring untuk menyaksikan film ini di bioskop. Film ini wajib ditonton siswa dari sekolah dasar hingga SMA. Sekolah hanya setengah hari, sisanya digunakan untuk melihat film propaganda itu.

Setiap tahun filmnya diputar di TV dan baru hilang setelah Soeharto lengser pada 1998. Film tersebut telah berhasil membuat generasi muda mengira apa yang terjadi di masa lalu seperti yang ada di film.

Ada campur tangan kepentingan politik dalam film itu. Intervensi itu mengeksploitasi ketidaktahuan masyarakat sebagaimana yang diinginkan rezim penguasa.

Selain sebagai propaganda penguasa, film mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk membangun pergerakan demi melawan ketidakadilan sosial, sekaligus menyediakan solusi serta pemikiran lebih jauh terhadap isu-isu tersebut. Jadi, ketika ucapan para pemimpin tak lagi bisa dipercaya, film muncul sebagai salah satu alat bagi masyarakat untuk memahami berbagai masalah yang terjadi di negeri ini.

Film bisa sangat efektif untuk mendorong terjadinya perubahan sosial seperti mengangkat isu-isu anti diskriminasi di Indonesia. Meski tidak secara langsung tampil di layar, pesan keberpihakan kepada kelompok yang terpinggirkan bisa diangkat sebagai cerita dalam visual yang menarik.

Film yang baik mampu membuat masyarakat mendapatkan pengalaman bersama, mampu menghargai adanya perbedaan. Proses belajar lewat film bisa diikat dalam visualisasi, maupun cerita film. Ide seperti “Proyektor Keliling’ bisa menjadi alat penyadaran alternative menghadapi propaganda kebohongan.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kiat Menjalani Isolasi Mandiri bagi Remaja Terinfeksi COVID-19

Bantu Sesama di Masa Pandemi

Kabar Baru Jam 8

Demi Oksigen Somasi Dilayangkan