Bangun Huntara untuk Korban Gempa Sulteng, Pemerintah Libatkan Warga Lokal

"Sejumlah warga di Kota Palu ikut diberdayakan membangun hunian sementara untuk mengurangi pengangguran pascabencana"

BERITA | NUSANTARA

Jumat, 26 Okt 2018 17:01 WIB

Author

Aldrimslit Thalara

Bangun Huntara untuk Korban Gempa Sulteng, Pemerintah Libatkan Warga Lokal

Pengerjaan hunian sementara di Kota Palu yang melibatkan warga sekitar. (Foto: KBR/Aldrimist Thalara)

KBR, Palu - Setelah masa tanggap darurat bencana berakhir, kini tahap rekonstruksi dan rehabilitasi mulai difokuskan pada pembangunan hunian sementara atau huntara bagi korban bencana alam di Kota Palu, Sigi dan Donggala.

Dalam pembangunan itu, sejumlah warga di Kota Palu ikut diberdayakan untuk mengurangi pengangguran pascabencana. Salah satunya berada di Kelurahan Kawatuna, Palu, Sulawesi Tengah.

Hunian sementara ini dibangun untuk korban bencana alam yang berdomisili di Kelurahan Petobo di mana sebagian besar rumah korban hancur bahkan hilang saat gempa dan likuifaksi pada Jumat, 28 september lalu.

Salah seorang warga Palu, yang dipekerjakan di lokasi itu, Hartono mengaku terbantu dalam hal ekonomi dan mengobati trauma yang dirasakannya setelah bencana.

"Ya butuh kerjaan pak, daripada menganggur. Cuma profesi saya sebelumnya kuli (bangunan). Banyak teman-teman yang kemari supaya traumanya hilang,” katanya di Palu, Jumat (26/10/2018).

Sementara itu, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto, mengatakan pemberdayaan warga Palu ini sudah menjadi rancangan untuk memperbaiki perekonomian warga Palu pascabencana. 

"Tapi yang terpenting adalah saya disini minta supaya masyarakat dilibatkan jadi pekerja agar mereka mendapatkan penghasilan. dari penghasilan itu mereka bisa hidup. Jangan hanya mengandalkan dari jadup atau jaminan hidup dari pemerintah. Kalau mereka ikut kerja, itu kan keringat mereka sehingga tidak nganggur di tenda-tenda," kata Wiranto.

Wiranto sendiri datang ke Kota Palu untuk meninjau langsung serta mengevaluasi masa tanggap darurat yang berakhir pada 26 oktober 2018 ini.

Masa tanggap darurat kemudian beralih ke masa transisi darurat menuju pemulihan dan pembangunan kembali Kota Palu, Donggala dan Sigi pascabencana gempa, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah.

Editor: Kurniati

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Mendikbud Nadiem Makarim Diminta Perbaiki Mental dan Moralitas