Komnas HAM Selidiki Penyebab Mahasiswa Papua Pulang Kampung Massal

Tim juga akan menelusuri dugaan adanya intimidasi yang dialami mahasiswa di tanah rantau, usai insiden rasial di asrama Papua di Surabaya dan Malang.

BERITA | NUSANTARA

Selasa, 10 Sep 2019 15:07 WIB

Author

Arjuna Pademme, Budi Prasetiyo, Resky Novianto, Hermawan Arifianto, Antara

Komnas HAM Selidiki Penyebab Mahasiswa Papua Pulang Kampung Massal

Aksi demo mahasiswa Papua di depan Mabes TNI AD, Rabu (28/08/2019). KBR/Wahyu Setiawan

KBR, Jayapura - Kepala Komnas HAM Perwakilan Papua Frits Ramandey bakal mengirim tim ke Makasar, Manado, Bali dan Yogyakarta untuk menyelidiki penyebab kembalinya mahasiswa Papua yang menempuh pendidikan di empat kota itu.

Frits mengatakan tim juga akan menelusuri dugaan adanya intimidasi yang dialami mahasiswa di tanah rantau, usai insiden rasial di asrama Papua di Surabaya dan Malang. 

"Ini penting untuk Komnas HAM memastikan apakah eksodusnya mahasiswa Papua dari luar Papua kembali ke Papua ini memenuhi unsur pelanggaran HAM atau tidak. Karena ini telah berdampak luas, tidak hanya menjadi perhatian nasional, tetapi juga internasional," kata Frits Ramandey di Jayapura, Selasa (10/9/2019).

Frits mengaku Komnas HAM telah mendatangi sejumlah asrama mahasiswa di Jayapura beberapa hari terakhir. Komnas menemukan ada mahasiswa dari perantauan yang memilih tinggal sementara bersama rekan-rekannya di asrama. 

Mahasiswa pulang karena intimidasi

Kepulangan mahasiswa Papua diduga lantaran adanya teror dan intimidasi, salah satunya terjadi di asrama mahasiswa di Jalan Kalasan, Surabaya, Senin (9/9/2019) dini hari. 

Salah satu penghuni asrama Yoap Orlando mengatakan ada pria melemparkan dua karung berisi ular piton ke halaman asrama. Pelaku menggunakan sepeda motor saat melakukan aksinya. 

"Mereka empat orang, dengan dua motor. Waktu itu sebagian anak-anak sedang tidur dan langsung dilempar ular," kata Yoap.

Menurut Yoap, aksi teror terhadap mahasiswa Papua di Surabaya bukan kali ini saja terjadi. Beberapa waktu lalu, asrama mahasiswa juga dilempar cat.

Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) mengklaim jumlah mahasiswa yang pulang kampung mencapai ribuan orang. Ribuan mahasiswa itu tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Aktivis AMP Albert Manunggar mengatakan mereka mengaku ketakutan karena ada intimidasi dan razia atau sweeping di asrama Papua. 

"Semua kawan-kawan diteror, diintimidasi di setiap asrama. Dan juga sekarang aparat lebih brutal lagi di jalan melakukan penangkapan-penangkapan akhirnya merasa tidak nyaman. Masa korban dijadikan tersangka, ini kan lucu," kata Albert kepada KBR, Senin (9/9/2019).

Albert mengungkapkan mahasiswa yang telah kembali ke Papua merasa nyaman dan tenang. Perlakuan berbeda justru didapatkan mereka ketika berada di perantauan.

Albert mengklaim mahasiswa telah menutup pintu dialog dengan Majelis Rakyat Papua (MRP) maupun pemerintah. 

"Kita mau berunding sama siapa? Setelah pulang, mereka merasa nyaman, karena pulang ke tanah airnya kan," lanjutnya.

Kepulangan disesalkan

Gubernur Papua Lukas Enembe menyayangkan kepulangan massal mahasiswa Papua dari perantauan. Dikutip dari Antara, Lukas mengatakan mahasiswa berkukuh untuk pulang meski telah ada jaminan keamanan dari aparat dan pemerintah. Ia mengaku kebingungan menangani persoalan ini.

"Saya sampaikan waktu itu kalau di NKRI tidak aman akan dipulangkan. Tapi daerahnya aman, jadi tidak usah pulang," ujar Lukas di Jayapura, Senin (9/9/2019).

Lukas berjanji segera membahas kepulangan mahasiswa ini bersama Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, Majelis Rakyat Papua (MRP), DPRD Papua serta wali kota/bupati se-Papua. 

Lukas menyebut jumlah mahasiswa yang pulang sudah lebih dari 300 orang, mayoritas dari kota Manado sekitar 200 orang. Adapun sisanya berasal dari beberapa kota di Jawa. 

Sementara itu, Gubernur Khofifah Indar Parawansa meminta mahasiswa maupun pelajar asal Papua yang menempuh pendidikan di Jawa Timur agar tak pulang ke daerahnya. Khofifah kembali menegaskan tentang jaminan keamanan bagi warga Papua di Jawa Timur. 

"Pada saat kita mengalami dinamika tertentu ya kita akan tetap menyampaikan bahwa selama ini sudah berjalan dengan baik. Dan tidak ada sesuatu yang memberikan alasan untuk pulang," tutur Khofifah di Banyuwangi, Senin (9/9/2019).

Khofifah menyebut ada sekitar 500 mahasiswa dan pelajar Papua yang menempuh pendidikan di Jawa Timur. Menurutnya, proses pendidikan mereka berjalan lancar. 

 Editor: Ninik Yuniati

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

KPK Serukan Penerapan Sertifikasi Sistem Manajemen Antisuap