Konflik Nduga Tak Kunjung Usai, Peneliti LIPI Duga Ada Kepentingan Bisnis

"Jangan-jangan persoalan yang tak selesai itu ada kaitannya dengan itu juga (bisnis sektor sumber daya alam). Papua ini daerah kaya."

BERITA | NASIONAL | NUSANTARA

Senin, 27 Jan 2020 11:59 WIB

Author

Arjuna Pademme, Adi Ahdiat

Konflik Nduga Tak Kunjung Usai, Peneliti LIPI Duga Ada Kepentingan Bisnis

Prajurit TNI saat hendak berangkat menuju Kabupaten Nduga, Papua (5/12/2018). (Foto: ANTARA)

KBR, Jayapura- Konflik antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata di Kabupaten Nduga, Papua, belum kunjung usai hingga sekarang. Konflik itu meletus sejak 2018 lalu. 

Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adriana Elizabeth menduga konflik berkepanjangan itu tak hanya dilandasi kepentingan politik, tapi juga bisnis.

"Jangan-jangan ada soal lain di situ (Nduga) ada banyak keterlibatan aktor di situ. Ada satu yang menurut saya, secara parsial atau sendiri-sendiri saya dengar tapi belum secara utuh dibicarakan, apalagi secara terbuka, soal bisnis di sektor sumber daya alam," kata Adriana Elizabeth di Jayapura, Papua, Sabtu (25/1/2020).

"Nah, jangan-jangan persoalan yang tak selesai itu ada kaitannya dengan itu juga (bisnis sumber daya alam). Papua ini daerah kaya," lanjutnya.

Adriana mengungkapkan bahwa hampir semua wilayah pegunungan di Papua sampai ke negara tetangga Papua Nugini memiliki kandungan emas.

Artikel Terkait:

Peneliti LIPI Adriana Elizabeth menilai pemerintah mestinya membicarakan pangkal masalah konflik di Nduga secara terbuka.

Ia pun meminta pemerintah mengatasi konflik Nduga lewat berbagai pendekatan, mulai dari pendekatan ideologi, keamanan, kesejahteraan sosial, sampai pengawasan terhadap kelompok elite politik setempat.

"Jadi kalau ada persoalan kemanusiaan, kemanusiaannya dulu ditangani, jangan konfliknya. Yang biasanya menciptakan konflik kan elite, jadi elite juga harus diperhatikan gerak-geriknya. Jangan-jangan itu semua yang menyebabkan persoalan di Papua selama ini," ujarnya. 

Editor: Sindu Dharmawan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Menteri Keuangan India Dituduh Politisasi Pembagian Vaksin Covid-19 Gratis

Implementasi B30 di Masa Pandemi

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Diduga Pungli, Empat Petugas Rapid Tes Ditangkap Polda Papua