NASIONAL

Bahlil Ingin Indonesia Jadi Industri Baterai Kendaraan Listrik Terbesar di Dunia

"Indonesia dikenal sebagai negara dengan industri penghasil baterai terbesar di dunia."

Bahlil Ingin Indonesia Jadi Industri Baterai Kendaraan Listrik Terbesar di Dunia
ilustrasi industri sepeda motor listrik dan baterainya. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga)

KBR, Jakarta - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia ingin agar Indonesia dikenal sebagai negara dengan industri penghasil baterai terbesar di dunia.

"Kita ingin Indonesia dikenal di mata dunia, bukan hanya dengan pariwisatanya di Bali. Tapi kita ingin dunia mengenal Indonesia sebagai negara industrialis penghasil baterai listrik terbesar di dunia dari hulu ke hilir," katanya saat memberikan orasi ilmiah berjudul "Transformasi Ekonomi melalui Hilirisasi dengan Kearifan Lokal" secara virtual, Jumat (7/10/2022).

Bahlil menyebut, 80 persen bahan baku utama baterai listrik adalah nikel.

Menurutnya, industri baterai listrik bisa menjadi ekosistem investasi terbesar dan yang pertama di dunia karena 25 persen cadangan nikel ada di Indonesia.

"Ini adalah cadangan nikel terbesar yang kita punya. kita punya cobalt, kita punya mangan, yang tidak kita punya adalah litium, itu kita impor dari Australia," katanya.

Baca juga:

Bahlil melanjutkan, saat ini dunia tengah mendorong energi hijau dan berlomba-lomba meningkatkan penggunaan mobil listrik guna mengurangi emisi.

Ia menambahkan, pemerintah juga telah melarang ekspor nikel demi program hilirisasi di dalam negeri.

"Selama ini investasi di Indonesia dimainkan oleh negara lain. Oleh karena itu, saat ini adalah waktu yang tepat untuk Indonesia memainkan investasinya," pungkas Bahlil Lahadalia.

Editor: Kurniati Syahdan

  • baterai listrik
  • kendaraan listrik
  • industri baterai listrik
  • menteri investasi
  • bahlil lahadalia
  • nikel

Komentar (0)

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!