NUSANTARA

40 Ribu UMKM Abal-Abal di Rembang Diduga Dapat Bantuan saat Pandemi

"Sebagian besar dari UMKM tersebut mengaku punya usaha agar mendapat bantuan Rp2,4 juta dari pemerintah saat pandemi COVID-19."

40 Ribu UMKM Bohong-bohongan Dapat Bantuan 2,4 Juta saat COVID-19
Ilustrasi: Salah satu ruas jalan di Rembang, Jawa Tengah yang menjadi pusat usaha mikro kecil menengah UMKM, Senin, 3 April 2023. Foto: KBR/Musyafa

KBR, Rembang- Pemerintah Kabupaten Rembang menemukan 40 ribuan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang diduga abal-abal.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz menyebut sebagian besar dari UMKM tersebut mengaku punya usaha agar mendapat bantuan Rp2,4 juta dari pemerintah saat pandemi COVID-19.

Awalnya, Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten Rembang mencatat ada 39 ribuan usaha mikro kecil menengah.

"Saya kaget, dari 39 ribu meningkat menjadi 99 ribu, ada yang tidak wajar ini," tuturnya, Senin, (03/04).

Baca juga:

Bupati memerintahkan dinas terkait melakukan evaluasi dan validasi, supaya memperoleh data UMKM yang akurat.

"Waktu itu pemerintah menggelontorkan bantuan tanpa aturan yang jelas, yang mengajukan, dapat. Enggak apa-apa, ancen masyarakat butuh. Tapi, karena misinya hanya ingin mendapatkan bantuan, kalau gini-gini diteruskan enggak bagus untuk bangsa kita," kata Bupati Hafidz, Senin, 03 April 2023.

Setelah melalui proses validasi, ada 40 ribuan UMKM yang dianggap abal-abal, sehingga data UMKM yang semula 90 ribuan, saat ini menjadi 51.600-an.

Abdul Hafidz berharap, peningkatan jumlah UMKM mampu menguatkan perekonomian. Ia mendorong agar UMKM tidak mudah menyerah dan tumbuh produktif.

"Apalagi di bulan suci Ramadan ini, banyak sentra-sentra tempat jualan baru. Syukur setelah bulan puasa, masih ada yang tetap berinovasi, sehingga masih eksis," pungkasnya.

    Editor: Sindu

    • UMKM
    • UMKM Rembang
    • Bantuan UMKM

    Komentar (0)

    KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!