Jaga Stok Komoditas Pangan, Pemerintah Tambah Cold Storage di TTIC

"Yang belum ada itu di Papua. Yang itu akan kita dirikan tahun depan. Sama di Kepulauan Riau."

BERITA | NASIONAL

Selasa, 31 Des 2019 19:58 WIB

Author

Sadida Hafsyah

Jaga Stok Komoditas Pangan, Pemerintah Tambah Cold Storage di TTIC

Pegawai Bulog mengangkat stok daging dari ruang pendingin di Gudang Center di Kendari, Sultra, Senin (16/12/2019). (Foto: ANTARA/Jojon)

KBR, Jakarta - Pemerintah akan segera menambah tempat penyimpanan berpendingin (cold storage) untuk menyimpan pasokan komoditas pangan.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Agung Hendriadi menyebut penambahan cold storage dimaksudkan agar pasokan pangan dapat dikendalikan di tahun 2020.

Cold storage akan disimpan di Toko Tani Indonesia Center (TTIC) yang tersebar di hampir seluruh provinsi.

"Sekarang ini sudah ada 32 provinsi yang punya (TTIC). Tetapi yang memang kapasitasnya tidak sebesar ini. Ini yang terbesar. Yang belum ada itu di Papua. Yang itu akan kita dirikan tahun depan. Sama di Kepulauan Riau. Kepulauan Riau juga akan kita dirikan tahun depan," kata Agung dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (31/12/2019).

Kepala Badan Ketahanan Pangan Agung Hendriadi menjelaskan TTIC sengaja dibangun agar petani menerima pendapatan lebih tinggi. Yaitu meningkatkan jumlah penjualannya, melalui interaksi langsung pada konsumen. Dengan kata lain, pemerintah berupaya mempersempit rantai pasokan.

Ia juga menyarankan petani memanfaatkan e-commerce, sebagai pasar digital hasil perkembangan teknologi informasi.

"Tetapi yang kita akan dorong adalah pertama, meningkatkan jumlah penjualannya. Kedua, menggunakan teknologi sekarang yang nama e-commerce. E-commerce ini luar biasa dampaknya. Kita bisa memotong rantai pasok. Juga mengurangi cost untuk inventory. Jadi nggak ada barang disimpan di sini. Barang disimpannya di Gapoktan. itu yang kita lakukan," kata Agung.

Berbicara soal pasokan bahan pangan, ia mengakui kekurangan masih terjadi di daerah Indonesia bagian timur, misalnya Wamena.

Oleh karena itu, kata Agung, TTIC menjadi fasilitas yang bisa dimanfaatkan gabungan kelompok petani (Gapoktan) sebagai bantuan promosi dengan subsidi transportasi.

Kinerja TTIC sepanjang 2019 telah menorehkan transaksi petani dengan nilai akumulasi sebesar  Rp 115,3 miliar. Kemudian melalui toko tani tingkat regional sebesar Rp 67,8 miliar dan melalui e-commerce sebesar Rp47,5 miliar.

"Untuk menampung panen bawang, cabai, telur, dan daging kapasitas lima ton per kabin (cold storage) dan seluruhnya itu di tiap TTIC ada kapasitas 20 ton," paparnya.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Erlin: Edutrip Hadir untuk Meningkatkan Minat Anak ke Museum