IDI: 'Yayasan Dunia Bebas Asap Rokok' Dibentuk untuk Mengecoh Masyarakat

IDI menduga industri rokok multinasional berupaya mengecoh masyarakat sebagai bagian untuk memasarkan produk tembakau baru, yaitu rokok elektronik atau tembakau yang dipanaskan.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 22 Nov 2019 07:51 WIB

Author

Valda Kustarini

IDI: 'Yayasan Dunia Bebas Asap Rokok' Dibentuk untuk Mengecoh Masyarakat

Warga melintas dekat mural di kampung tanpa rokok di Kampung Penas, Jakarta, Rabu (6/11/2019). (Foto: ANTARA/Nova Wahyudi)

KBR, Jakarta - Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan sejumlah perhimpunan dokter menolak bekerjasama dengan Foundation for A Smoke-Free World atau yayasan "dunia bebas asap rokok".

Yayasan itu didirikan perusahaan rokok Philip Morris International.

Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih mengatakan yayasan itu justru mempromosikan bentuk lain dari rokok. Ia pun menduga The Foundation for a Smoke-Free World hanya strategi bisnis.

"Kami sepakat menyatakan menolak semua aktivitas yang dilaksanakan fondation tersebut karena mengkampanyekan sesuatu yang bertentangan atau sesuatu yang mengganggu kesehatan," kata Daeng M Faqih di Kantor PB IDI, Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Daeng menilai pemakaian istilah bebas asap rokok ini mirip dengan istilah yang dipakai oleh kalangan kesehatan. Ia menduga industri rokok multinasional berupaya mengecoh masyarakat sebagai bagian untuk memasarkan produk tembakau baru, yaitu rokok elektronik atau tembakau yang dipanaskan.

"Rokok biasa dan rokok elektronik sama berbahayanya dan sama-sama menyebabkan kecanduan. Bahkan bisa menyebabkan kecanduan ganda, yaitu kecanduan rokok biasa dan rokok elektronik," kata Daeng.

Karena itu, Daeng berharap para praktisi kesehatan di Indonesia cukup terinformasi dan mewaspadai strategi yang dilakukan industri rokok multinasional tersebut.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme