Sepanjang 2019, Luas Kebakaran Hutan Sudah 530 Kali Lapangan Monas

"Sehingga mereka tadi yang mau membakar, tidak menjadi membakar."

BERITA | NASIONAL

Kamis, 04 Jul 2019 17:17 WIB

Author

Adi Ahdiat, Siti Sadida Hafsyah

Sepanjang 2019, Luas Kebakaran Hutan Sudah 530 Kali Lapangan Monas

Upaya pemadaman kebakaran lahan gambut di Riau. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta- Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), selama Januari-Juli 2019 luas area kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sudah mencapai 42.740 hektare. Kira-kira, itu setara dengan 530 kali Lapangan Monumen Nasional (Monas) di Jakarta yang luasnya 80 hektare.

Mengingat saat ini Indonesia baru memasuki awal kemarau, luasan area karhutla juga masih berpotensi meningkat hingga akhir tahun nanti.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang enam bulan belakangan kasus karhutla paling banyak terjadi di:

  1. Riau: 24 kasus
  2. Aceh: 16 kasus
  3. Kalimantan Selatan: 12 kasus
  4. Kalimantan Timur: 9 kasus
  5. Sumatera Selatan: 6 kasus

Menurut Kepala BNPB Doni Monardo, karhutla di Indonesia 99 persennya terjadi karena ulah manusia. Sedangkan kebakaran yang terjadi karena faktor alam hanya 1 persen saja.

"Antara lain, tidak sengaja karena buang puntung rokok atau membakar sampah, disengaja karena ingin membuka lahan, dan disengaja karena dibayar. Alasannya adalah dampak kurangnya lapangan kerja," kata Kepala BNPB dalam situs resminya.


BNPB Turunkan Tim Terpadu

BNPB kini menurunkan tim terpadu untuk melakukan penjagaan di daerah rawan karhutla. Tim ini terdiri dari sekitar 1.000 anggota TNI dan 200 anggota Polri.

"Mereka akan bermukim di rumah-rumah penduduk, bergaul dengan penduduk setempat dan mengadvokasi penduduk agar tidak melakukan pembakaran," kata Sekretaris BNPB Dody Ruswandi, Kamis (4/7/2019).

"Di dalam tim terpadu itu, mereka nanti akan mencoba menciptakan sumber pendapatan baru. Sehingga mereka tadi yang mau membakar, tidak menjadi membakar. Karena persoalannya kan persoalan ekonomi ya. Jadi kalau kita hanya bisa melarang selama ini, terus habis itu bagaimana livelihood-nya. Nah, sekarang itu yang mau kita coba usahakan bersama-sama," tambahnya.

Programnya dibiayai oleh BNPB, bekerja sama dengan TNI dan Polri dalam penyediaan Sumber Daya Manusia (SDM).

Program pencegahan baru akan dilakukan BNPB tahun ini. Sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya BNPB berfokus pada upaya pemadaman Karhutla.

Walaupun begitu, upaya pemadaman tetap dipersiapkan. Seperti menyiapkan helikopter yang membantu memadamkan api di lapangan. 


Baca Juga:

Karhutla Riau, Walhi Desak Pemerintah Audit Perizinan Lahan

Angin Kencang Sulitkan Pemadaman Karhutla Riau 

Tahun 2020, Anggaran Pendidikan Agama Jauh Mengalahkan Riset dan Mitigasi Bencana  


Sumber Daya Pencegahan Karhutla Minim

Dody menegaskan bahwa intensitas karhutla sudah berkurang dibanding tahun 2015.

"Bila dibandingkan kejadian 2015 yang terburuk, sudah semakin baik. Tidak ada lagi sekolah atau bandara ditutup, atau asap yang mengganggu negara tetangga," jelasnya, seperti dikutip Antara (4/7/2019).

Data Karhutla Monitoring System memang menunjukkan karhutla paling parah terjadi pada 2015. Namun, di tahun-tahun berikutnya karhutla tetap "konsisten" melahap area hutan sampai ratusan ribu hektare. Berikut rinciannya:

  • Tahun 2015 luas karhutla 2.611.411 hektare
  • Tahun 2016 luas karhutla 438.363 hektare
  • Tahun 2017 luas karhutla 165.483 hektare
  • Tahun 2018 luas karhutla 510.564 hektare

Menurut Dody sampai sekarang BNPB belum bisa memastikan target penurunan karhutla. Sebab, sumber daya untuk kegiatan pencegahannya tidak sebanding dengan wilayah Indonesia yang sangat luas.

“Indonesia adalah negara dengan wilayah yang luas, sehingga sumber daya-sumber daya untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan juga harus diperluas,” tegas Dody.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 10

Jelang Pelantikan Presiden, Dari Pengamanan Hingga Larangan Demo

20 Tahun Lagi, Lapisan Tanah Subur di Dataran Dieng Diperkirakan Terkikis Habis

Kabar Baru Jam 8

PM Selandia Baru Akan Bersihkan Konten Ekstrimis di Dunia Online