Kapolri: Masyarakat Kelas Bawah Rentan Diprovokasi

"Bangsa kita masih di dominasi oleh masyarakat kelas bawah, sehingga masih berpotensi perpecahan dari faktor internal."

BERITA , NASIONAL

Jumat, 12 Jul 2019 17:25 WIB

Author

Adi Ahdiat

Kapolri: Masyarakat Kelas Bawah Rentan Diprovokasi

Kapolri Tito Karnavian. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Tito Karnavian menilai masyarakat kelas bawah atau ekonomi lemah rawan mengalami perpecahan.

Hal itu ia sampaikan saat memberi pidato pembekalan untuk 781 orang calon perwira (Capaja) TNI dan Polri Tahun 2019 di GOR Ahmad Yani, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta.

"Bangsa kita masih di dominasi oleh masyarakat kelas bawah, sehingga masih berpotensi perpecahan dari faktor internal. Selama 74 tahun dominasi low class yang masih banyak dan pengangguran masih tinggi," kata Tito seperti dikutip Antara, Jumat (12/7/2019).

Tito menilai, masyarakat kelas bawah rentan merasa tidak puas kepada pemerintah, rentan mengalami kecemburuan sosial, rentan diprovokasi serta diadu domba.

"Isu ideologi, agama, perbedaan suku, ras, akan muncul ketika terjadi permasalahan di bidang kesejahteraan ekonomi," ujarnya.


Negara Kuat Didominasi Kelas Menengah

Dalam kesempatan sama, Tito mengatakan bahwa masyarakat kelas menengah lebih bisa menopang stabilitas negara.

Ia mencontohkan bahwa negara-negara kuat seperti Amerika, Denmark dan Finlandia masyarakatnya didominasi oleh kelas menengah.

"Negara kuat didominasi kelas menengah. Potensi konflik menjadi lebih rendah karena kecukupan. Bangsa yang memiliki kelas menengah yang lebih besar, akan meminimalkan konflik," ujar Tito.

"Kita harus jujur bahwa kita belum mampu membuat bangsa kita dalam demografinya didominasi masyarakat kelas menengah. Indikator negara kuat dan stabil adalah masyarakat kelas menengah yang besar," katanya lagi.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Amandemen UUD 1945