Cegah Tenaga Medis Meninggal, IDI Bentuk Tim Audit Kematian Dokter

"Terus-terang karena data itu tidak diperoleh dari data pemerintah, kita tidak tahu persis apakah itu betul-betul ditularkan COVID-19 atau tidak"

BERITA | NASIONAL

Senin, 27 Apr 2020 20:00 WIB

Author

Valda Kustarini, Lea Citra

Cegah Tenaga Medis Meninggal, IDI Bentuk Tim Audit Kematian Dokter

Ilustrasi tenaga medis di rumah sakit yang menggunakan alat pelindung diri. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membentuk tim, untuk mengaudit kematian dokter, saat pandemi Covid-19.

Tim ini dibentuk untuk validasi lanjutan terkait meninggalnya para dokter di beberapa rumah sakit, saat penanganan Covid-19. 

Ketua Pengurus Besar IDI, Daeng M. Faqih mengatakan ada 25 dokter meninggal karena tertular dan diduga tertular virus corona jenis baru, atau Covid-19.

"Terus-terang karena data itu tidak diperoleh dari data pemerintah, kita tidak tahu persis apakah itu betul-betul ditularkan COVID-19 atau tidak. Oleh karena itu PB IDI membentuk tim audit kematian dokter terkait COVID-19," kata Daeng M. Faqih saat telekonferensi, Senin (27/4/2020).

Daeng mengatakan, 25 dokter yang meninggal hingga hari ini belum termasuk dokter gigi maupun perawat yang meninggal terkait virus corona. Dokter itu tersebar di berbagai rumah sakit di berbagai daerah di Indonesia.

"Jadi untuk 25 yang dilaporkan kami akan audit dan kami akan telusuri, misalnya ke teman kerjanya, ke atasan tempat dia bekerja ataupun sampai ke keluarganya," ujarnya.

Sebelumnya, IDI juga mempertanyakan keseriusan pemerintah menangani penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Menurut Ketua Satgas Covid-19 IDI, Zubairi mengatakan, kunci pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19 adalah karantina wilayah, atau PSBB.

"Jadikan urutannya, sebagian besar negara full lockdown, sebagian lagi partial lockdown, dan selanjutnya adalah karantina wilayah. Berikutnya lagi PSBB itu udah yang paling ringan. Kan tujuannya untuk memutus rantai penularan. PSBB adalah cara yang paling ringan, artinya memutus rantai penularannya tidak sebaik kalau full lockdown, cuman untuk memutus rantai penularan itu, harus juga disertai dengan upaya lain," kata Zubairi kepada KBR.

Ketua Satgas Covid-19 IDI Zubairi mengatakan, masih adanya aktivitas manusia di luar rumah akan meningkatkan pontensi pembludakan pasien positif Covid-19. 

IDI juga menekankan pentingnya pengetesan massal Covid-19 saat penerapan PSBB. Sehingga mata rantai penyebaran Covid-19 bisa terputus.

"Iya tidak hanya kewalahan, terinfeksi kemudian. Kan makin banyak pasien yang dirawat, yang bisa dicegah sebetulnya. Makin besar kemungkinan, dokternya menjadi kecapean, menjadi kehabisan alat pelindung diri, tertular, meninggal," pungkasnya. 

Hingga hari ini, kasus positif covid-19 di Indonesia mencapai 9.096 kasus. Dari jumlah itu ada 1.151 pasien sembuh, dan 765 pasien meninggal dunia. 

Editor: Kurniati Syahdan 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Persiapan Pemerintah Hadapi New Normal

Kabar Baru Jam 15