Setelah Logam Berat, Kini Kali Surabaya Tercemar Mikroplastik

Menurut Ecoton, polutan mikroplastik di Kali Surabaya bersumber dari sampah pemukiman serta limbah industri kertas daur ulang.

RUANG PUBLIK , BERITA , NASIONAL

Kamis, 28 Mar 2019 14:20 WIB

Author

Adi Ahdiat

Setelah Logam Berat, Kini Kali Surabaya Tercemar Mikroplastik

Ilustrasi: Sungai Brantas, induk sungai hulu dari Kali Surabaya, banyak tercemar popok bayi (Foto: KBR/Zainul Arifin)

Kali Surabaya tidak hanya tercemar oleh bahan organik dan logam berat saja, tapi juga oleh mikroplastik.

Demikian dilaporkan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) dalam rilisan pers yang diterima KBR, Kamis (28/3/2019).

Kali Surabaya adalah anak sungai hilir dari Sungai Brantas, sungai terpanjang di Jawa Timur.

Menurut Ecoton, sungai ini merupakan habitat berbagai spesies air tawar yang bernilai penting bagi ekologi serta perekonomian warga sekitarnya.

Namun sejak kira-kira sepuluh tahun belakangan, pencemaran di Kali Surabaya dikabarkan terus mengalami peningkatan.

Pada tahun 2011 Kali Surabaya dilaporkan sudah tercemar Kromium (cr), sejenis logam berat yang dihasilkan limbah industri.

Sepanjang tahun 2012 sampai 2013, ada juga beberapa kasus di mana ikan-ikan Kali Surabaya mati mendadak secara bersamaan.

Dan sekarang, menurut penelitian terbaru dari Ecoton dan IndoWater CoP, sebanyak 72 persen ikan dari total sampel ditemukan memiliki mikroplastik di lambungnya.


Baca Juga:

Pelajar di Malang Ungkap Pencemaran Sungai Brantas

Brigade Popok Penyelamat Sungai Brantas  


Mikroplastik Berasal dari Industri Kertas Daur Ulang

Mikroplastik adalah plastik yang terkena proses pelapukan fisik, kimia, dan biologis hingga ukurannya terpecah menjadi sangat kecil, yakni kurang dari 5 milimeter.

Mikroplastik memiliki kemampuan untuk mengikat polutan lain seperti logam berat, pestisida, dan limbah kimia seperti Poliklorin Bifenil (PCB) dalam konsentrasi yang sangat tinggi.

Karena begitu kecilnya, mikroplastik bisa termakan oleh berbagai jenis ikan dan membuat mereka mengalami gangguan reproduksi, perkembangan embrio yang tidak sempurna, gangguan sistem hormon, gangguan pencernaan, serta perubahan ekspresi gen.

Bila ikan yang tercemar itu dikonsumsi manusia, maka mikroplastik itu bisa terakumulasi di tubuh manusia hingga rawan mengakibatkan gangguan pencernaan, bahkan gangguan sistem syaraf.

Menurut Ecoton, polutan mikroplastik di Kali Surabaya bersumber dari sampah pemukiman serta limbah industri kertas daur ulang.


Perlu Ada Regulasi dan Penelitian Lanjutan

Ecoton menilai cemaran mikroplastik di Kali Surabaya perlu diatasi dengan sejumlah regulasi.

Pemerintah dari tingkat provinsi dan kabupaten/kota didorong untuk menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar dengan harga yang tinggi. Hal ini dianggap perlu untuk mengurangi kadar sampah plastik yang masuk ke sungai.

Ecoton juga mendorong Kementerian LHK untuk memperketat baku mutu limbah industri dengan memperhitungkan risiko polusi mikroplastik.

Di samping itu, Ecoton memandang bahwa penelitian terkait masalah ini perlu digalakkan lagi oleh sejumlah pihak. Mulai dari Kementerian Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, serta Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Di samping berupaya mengurangi cemaran mikroplastik, pihak-pihak tersebut juga perlu memastikan agar warga di sekitar Kali Surabaya mendapat pasokan air minum yang layak.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.