Mengulik Pandangan Milenial, Dari Poligami sampai Pemilu

Mayoritas milenial menganggap seks bebas sebagai sesuatu yang "salah". Mereka juga umumnya menganggap poligami itu “benar”.

RUANG PUBLIK , BERITA , NASIONAL

Kamis, 21 Mar 2019 19:19 WIB

Author

Adi Ahdiat

Mengulik Pandangan Milenial, Dari Poligami sampai Pemilu

Ilustrasi. (Foto: opticiantraining.org/Flickr/Creative Commons)

KBR - Menurut data Bappenas, saat ini ada sekitar 63 juta generasi milenial di Indonesia (usia 20 – 35 tahun).

Generasi usia produktif ini diperkirakan akan menjadi aktor-aktor penting dalam perjalanan Indonesia selama 5 – 10 tahun ke depan.

Karena itu, akhir tahun 2018 lalu IDN Research Center menggelar riset mengenai generasi milenial Indonesia.

Riset yang dikerjakan IDN bersama Alvara Research Center ini mensurvei 1.400 milenial yang tersebar di 12 kota besar. Ini beberapa temuan surveinya.


Republik atau Khilafah?

IDN dan Alvara membagi hasil surveinya ke dalam sejumlah tema besar. Tema pertama adalah soal agama, norma, dan tradisi.

Di tema ini, IDN dan Alvara menemukan bahwa mayoritas milenial mendukung keberadaan negara republik (81,5 persen).

Namun demikian, ada juga sebagian kecil yang mendukung pendirian negara khilafah (19,5 persen).


Palestina atau Indonesia Timur?

Saat dihadapkan pada pilihan antara membantu muslim di Palestina atau korban bencana di Indonesia Timur, mayoritas milenial memilih membantu korban bencana.

Menurut IDN dan Alvara, hal ini menunjukkan bahwa milenial cenderung nasionalis.


Poligami atau Seks Bebas?

Sebagian besar milenial menganggap aktivitas seks bebas, prostitusi, clubbing, dan hubungan sesama jenis sebagai sesuatu yang “salah”.

Sementara itu, mayoritas milenial juga menganggap bahwa pernikahan beda agama dan poligami adalah sesuatu yang “benar”.


Menabung atau Belanja?

Milenial menghabiskan sekitar 51 persen uangnya untuk belanja bulanan. Sekitar 10 persen disisihkan untuk menabung, dan hanya 2 persen untuk investasi.

Menurut IDN dan Alvara, hal ini menunjukkan bahwa milenial tergolong generasi yang konsumtif.


Isu Politik atau Non-Politik?

Menurut survei, mayoritas milenial tidak menyukai berita-berita politik. Mereka umumnya menganggap politik sebagai isu yang “berat” dan membosankan.

Dalam mengonsumsi berita, mereka lebih menyukai isu-isu tentang gaya hidup seperti film, musik, atau teknologi.


Tokoh atau Partai?

Dalam hal politik elektoral, mayoritas milenial lebih menyukai citra tokoh-tokoh politik ketimbang partainya.

Hal yang menjadi pertimbangan utama mereka dalam menilai partai politik adalah kedekatannya dengan masyarakat, program yang baik, kemampuan membawa perubahan, serta bebas korupsi.


Pilihan dalam Pemilu?

Dalam Pemilu, milenial paling menyukai citra pemimpin yang jujur, dekat dengan rakyat dan bebas korupsi.

Namun milenial ternyata tidak begitu tertarik pada citra pemimpin yang nasionalis. Milenial juga tidak terlalu antusias dengan pemimpin dari kalangan anak muda.

(Sumber: Indonesia Millenial Report 2019)

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Eps.2: Kuliah di UK, Cerita dari Rizki Putri Part 2

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17