Tak Punya Uang, Negara Minta Bantuan Swasta Pasang Listrik di Daerah 3T

"Butuh hampir Rp11 triliun untuk 2020 saja. Padahal PLN cuma mampu Rp2,1 triliun. Makanya kami membuka peran serta (sektor) privat."

BERITA | NASIONAL

Jumat, 07 Feb 2020 12:42 WIB

Author

Adi Ahdiat

Tak Punya Uang, Negara Minta Bantuan Swasta Pasang Listrik di Daerah 3T

Ilustrasi: Warga daerah 3T yang belum mendapat layanan listrik.

KBR, Jakarta- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta bantuan swasta untuk membangun infrastruktur listrik di daerah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal).

Menurut Dirjen Ketenagalistrikan ESDM Rida Mulyana, keterlibatan swasta akan meringankan kondisi finansial PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang saat ini berfokus menyelesaikan Program 35.000 MW.

"Butuh hampir Rp11 triliun untuk 2020 saja. Padahal PLN cuma mampu Rp2,1 triliun. Makanya kami membuka peran serta (sektor) privat," jelas Rida di situs Kementerian ESDM, Kamis (6/2/2020).

"Saat ini (rasio elektrifikasi) 98,6 persen, sisanya itu memang di daerah 3T, termasuk, wilayah yang pulau kecil," lanjut Rida.

Jika rasio elektrifikasi baru mencapai 98,6 persen, artinya saat ini masih ada 1,4 persen penduduk Indonesia atau sekitar 3,7 juta warga yang belum menikmati listrik.  


Banyak Investor Tertarik Sektor Ketenagalistrikan

Staf Khusus Menteri ESDM Triharyo Soesilo menjelaskan ada banyak investor asing berminat di sektor ketenagalistrikan.

"Arahan Pak Menteri (ESDM), coba dorong investor. Di dunia ternyata banyak investor yang dapat melistriki daerah tertinggal. Dari Amerika Selatan, Afrika, itu banyak sekali investor," ujar Triharyo, seperti dilansir situs Kementerian ESDM, Kamis (6/2/2020).

Ia menyebut penyediaan listrik di Indonesia bagian timur juga akan memanfaatkan dana desa yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

BUMDes akan dimungkinkan untuk bekerja sama dengan perusahaan listrik swasta atau independent power producer (IPP).

Editor: Sindu Dharmawan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Belajar dari Italia, Seperti Apa Karantina Wilayah yang Efektif?

Jokowi Janjikan Bantuan ke Pekerja Informal agar Tidak Mudik di Tengah Wabah Korona

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18