Iklan Pemilu Online Bisa Kurangi Jumlah Golput? Ini Risetnya

"Serangan" iklan online terbukti efektif menaikkan jumlah peserta Pemilu di kota Dallas, kota dengan tingkat golput tertinggi di Amerika Serikat.

RUANG PUBLIK , NASIONAL

Rabu, 06 Feb 2019 15:32 WIB

Author

Adi Ahdiat

Iklan Pemilu Online Bisa Kurangi Jumlah Golput? Ini Risetnya

Ilustrasi: iklan pemilu mengurangi goput (Foto: Antara)

Jumlah Golongan Putih (Golput) di Indonesia terus meningkat dalam dua dekade belakangan.

Menurut data yang dihimpun Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) di Pemilu  1999 Golput hanya berjumlah 7,3 persen dari total pemilih.

Setelah masuk tahun 2009 angka Golput naik menjadi 29,1 persen. Dan di tahun 2019 ini para pengamat memperkirakan jumlahnya bakal tumbuh lagi hingga mencapai sekitar 30 persen.

Bukan hanya di Indonesia, tren peningkatan Golput juga terjadi di skala global.

Menurut laporan Institute for Democracy and Electoral Assistance (IDEA), eksistensi Golput di negara-negara demokrasi kawasan Eropa, Oseania, Asia dan Amerika terus membesar dari waktu ke waktu.


Iklan Pemilu Online Bisa Kurangi Golput

Di tengah fenomena Golput yang kian marak, Katherine Haenschen baru saja menerbitkan publikasi ilmiah yang berjudul Mobilizing Millennial Voters with Targeted Internet Advertisements: A Field Experiment (2019).

Asisten profesor dari Departemen Komunikasi Virginia Tech itu melaporkan hasil risetnya tentang perilaku pemilih milenial di Dallas, kota dengan tingkat Golput tertinggi di Amerika Serikat.

Ia menemukan bahwa jumlah Golput dalam Pemilu Dewan Kota Dallas bisa berkurang signifikan berkat pemanfaatan layanan iklan online bertarget (targeted ads).

Pada  2018 Katherine dan timnya melakukan ujicoba dengan merancang targeted ads untuk para pemilih milenial.

Dalam percobaan tersebut Katherine membuat dua jenis iklan. Satu set iklan berfokus pada profil kandidat peserta Pemilu (information). Sedangkan satu set iklan lainnya berisi pengingat tanggal Pemilu serta ajakan untuk ikut memilih (reminder).

“Serangan” targeted ads itu kemudian diluncurkan selama satu bulan penuh sebelum hari pemilihan.

Algoritma iklan sudah dirancang sedemikian rupa agar terus muncul di laman-laman digital yang biasa diakses para pemilih milenial. Dengan begitu setiap harinya para milenial bisa terpapar iklan Pemilu sebanyak 1 – 4 kali.

Hasilnya, setelah “serangan” tiga puluh hari berturut-turut, partisipasi pemilih milenial dalam Pemilu Dewan Kota Dallas 2018 meningkat secara signifikan.

Menurut data Katherine, targeted ads ini telah berhasil menggerakkan orang-orang yang dulunya tercatat tidak pernah ikut mencoblos.

Dalam wawancara di Sciencedaily.com Katherine menyatakan, “Ini adalah pertama kalinya kami menemukan bahwa iklan digital bisa meningkatkan partisipasi kalangan milenial dalam pemilihan.”


Iklan Pemilu Online Cocok untuk Milenial

Menurut penilaian Katherine, kampanye politik melalui targeted ads sebenarnya memiliki efektivitas yang setara dengan kampanye lewat telepon.

Namun demikian, medium iklan online ini lebih efektif untuk pemilih milenial karena sesuai dengan karakter mereka.

Katherine menjelaskan bahwa kebanyakan milenial tidak punya sambungan telepon rumah, tingkat mobilitas tinggi, sering berpindah-pindah, serta tidak memiliki alamat tetap untuk jangka panjang.

Karakter-karakter tersebut menjadikan milenial sulit dijangkau oleh kampanye politik konvensional yang menggunakan medium telepon, televisi, pamflet, surat kabar, ataupun tatap muka.

Karena itu, untuk meraih pemilih milenial, Katherine mengusulkan supaya kampanye politik dilakukan lewat iklan-iklan digital yang menyasar cookie serta Internet Protocol (IP) Address pribadi mereka.


Iklan Pemilu Online Hanya Efektif di Daerah Kompetitif

Sebagai catatan, Katherine juga menyebut bahwa targeted ads ini baru terbukti efektif untuk daerah pemilihan yang kompetitif (competitive districts), yakni daerah yang berpopulasi padat dan/atau memiliki banyak kandidat.

Sedangkan untuk daerah pemilihan yang tidak kompetitif (non-competitive districts), yakni daerah berpopulasi rendah dan/atau jumlah kandidat sedikit, strategi kampanye iklan online belum terbukti manjur untuk menurunkan tingkat Golput.

(Sumber: Mobilizing Millennial Voters with Targeted Internet Advertisements: A Field Experiment, 2019)

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pansel Capim KPK Diminta Tak Loloskan Kandidat Bermasalah