BNPB: Banjir Jabodetabek Telan 43 Korban Jiwa

Ada yang meninggal karena terseret arus banjir, hipotermia, dan tersengat listrik.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 03 Jan 2020 10:58 WIB

Author

Adi Ahdiat

BNPB: Banjir Jabodetabek Telan 43 Korban Jiwa

Genangan banjir di kawasan Kampung Baru, Kembangan, Jakarta Barat, Kamis malam (2/1/2020). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Bencana banjir yang melanda Jabodetabek pada Rabu lalu (1/1/2020) menelan banyak korban jiwa.

"Data terbaru korban banjir besar yang terjadi di wilayah Jabodetabek hingga hari ini, Jumat (3/1/2020) pukul 09.00 WIB, adalah 43 jiwa," jelas humas BNPB Agus Wibowo dalam keterangan resminya, Jumat (3/1/2020).

Menurut data BNPB, korban jiwa paling banyak ada di Kabupaten Bogor, Kabupaten Lebak, Jakarta Timur, diikuti Kota Depok dan Bekasi.

Penyebab meninggalnya pun beragam, yakni:

  • Hilang : 1 orang
  • Hipotermia: 3 orang
  • Terseret arus banjir: 17 orang
  • Tersengat listrik: 5 orang
  • Tertimbun tanah longsor: 12 orang
  • Masih dalam pendataan: 5 orang

Selain korban jiwa, banjir Jabodetabek juga membuat puluhan ribu orang mengungsi. Di Jakarta, jumlah pengungsi mencapai sekitar 62 ribu orang. Sedangkan data pengungsi di kota-kota sekitarnya belum diumumkan.

Menurut BNPB, banyak juga warga terdampak banjir yang memilih tetap tinggal di rumah untuk menjaga harta benda masing-masing.

"Namun, ketika memilih untuk bertahan di rumah, kebutuhan makanan, minuman, air bersih serta pakaian menjadi terbatas," jelas BNPB.

Kepala BNPB Doni Monardo pun meminta para pemimpin daerah tegas mengingatkan masyarakat untuk mengungsi, melihat prediksi cuaca ekstrem yang masih akan terjadi sampai pertengahan Februari 2020.

“Sangat diharapakan ketegasan para pemimpin daerah untuk mengingatkan masyarakat. Harta penting, tetapi nyawa lebih penting,” ujar Doni dalam situs BNPB, Kamis (2/1/2020).

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Istana Buckingham Mencopot Gelar Kerajaan Pangeran Harry dan Istrinya

Prakiraan Cuaca Dari BMKG

Presiden Minta Semua ASN Nanti Pindah ke IKN Baru

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7