Ekosistem TN Komodo Masih Baik untuk Pariwisata, Ini Kata Peneliti

Gubernur NTT sempat melaporkan bahwa ukuran tubuh komodo kian mengecil. Tapi menurut riset ilmuwan biologi, tubuh komodo sekarang justru lebih besar, lebih kuat, dan berpeluang hidup lebih lama.

RUANG PUBLIK , BERITA , NASIONAL

Rabu, 30 Jan 2019 15:52 WIB

Author

Adi Ahdiat

Ekosistem TN Komodo Masih Baik untuk Pariwisata, Ini Kata Peneliti

Ilustrasi. (Foto: Arturo de Frias Marques/Wikipedia/Creative+Commons)

Baru-baru ini Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Laiskodat, menyampaikan sejumlah keterangan mengejutkan soal Taman Nasional (TN) Komodo.

Menurut Gubernur NTT, kondisi tubuh komodo sudah tidak sebesar dulu lagi. Ia menjelaskan tubuh “naga” ini mengecil karena makanan utama mereka, yakni populasi rusa, terus berkurang akibat perburuan liar.

Gubernur NTT kemudian menyatakan rencana untuk menutup pariwisata TN Komodo selama satu tahun ke depan, demi revitalisasi habitat komodo.


Peneliti: Komodo Baik-Baik Saja

Rencana penutupan TN Komodo memicu berbagai reaksi. Reaksi pertama datang dari kalangan pengusaha pariwisata.

Pengusaha menilai rencana ini akan sangat merugikan bisnis, mengingat tren kunjungan wisata ke TN Komodo terus meningkat setiap tahunnya.

Reaksi kedua datang dari kalangan ilmuwan. Menurut sejumlah peneliti yang pernah membuat riset berjudul Effects of Human Activities on Komodo Dragons in Komodo National Park (2018), kondisi Varanus komodoensis di TN Komodo baik-baik saja.

Dalam sebuah wawancara di ScienceMag.com, Maria Rosdalima Panggur, salah satu peneliti yang terlibat di riset tersebut mengatakan, “Saya bisa bilang bahwa semuanya (kondisi Komodo) masih terkendali di area Taman Nasional,” ujarnya.


Tubuh Komodo Semakin Besar

Dalam Effects of Human Activities on Komodo Dragons in Komodo National Park (2018), para peneliti menjelaskan bahwa pariwisata memang berdampak terhadap populasi komodo. Hanya saja, penjelasannya berbeda dengan yang disampaikan Gubernur NTT.

Para peneliti menyebut, komodo  di area TN memiliki ukuran tubuh yang lebih besar, lebih berat, lebih sehat, dan memiliki peluang hidup lebih lama dibanding komodo yang hidup di luar TN.

Perubahan ini terjadi karena komodo di TN kerap mendapat suplemen atau nutrisi tambahan dari makanan yang diberikan wisatawan.

Para “naga” di area TN juga sudah demikian terbiasa dengan keberadaan manusia, hingga terlihat seakan-akan jinak. Insting mereka untuk menghindari manusia sudah berkurang karena mereka menganggap manusia tidak mengancam.

Jadi, aktivitas pariwisata di TN Komodo memang berdampak langsung pada kebiasaan alamiah para komodo. Namun menurut para peneliti, dampak ini masih sangat minimal.

Maria menyebut, komodo yang berinteraksi dengan wisatawan hanya sekitar 5 persen dari total populasinya di TN Komodo . Sementara 95 persen komodo lain hidup aman di habitat alamiahnya.

Peneliti dari Komodo Survival Program (KSP) juga menyebut bahwa dalam kurun waktu 10 tahun terakhir populasi komodo di area TN dan Pulau Rinca masih relatif stabil.


Perburuan Liar Tidak Berhubungan dengan Pariwisata

Achmad Ariefiandy, ilmuwan biologi dari KSP, juga menyinggung soal masalah perburuan liar.

Akhir Desember 2018 lalu polisi menangkap pemburu liar yang membawa 100 ekor rusa mati dari kawasan TN.

Sekalipun memang memprihatinkan, Achmad menilai kasus itu belum bisa dibilang sebagai bukti penurunan populasi rusa. Pasalnya, menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)  tahun 2017 ada sekitar 3.900 ekor rusa yang hidup di TN Komodo.

Achmad juga berpandangan bahwa masalah perburuan liar semestinya diatasi lewat langkah penegakan hukum serta program pengembangbiakkan rusa, bukan lewat penutupan pariwisata.


Lindungi Komodo yang Hidup di Flores

Para peneliti juga sempat menyampaikan aspirasinya tentang TN Komodo dalam sebuah wawancara dengan Dyna Rochmyaningsih, kontributor ScienceMag.com

Menurut mereka, alih-alih menutup TN Komodo, pemerintah seharusnya membuat area perlindungan baru bagi populasi komodo yang hidup di luar area konservasi seperti di Flores.

Menurut penjelasan Maria, komodo-komodo yang hidup di Flores Utara lebih sensitif terhadap kepunahan.

Komodo di Flores Utara sangat berbeda secara genetik dengan saudaranya yang hidup di TN Komodo dan Pulau Rinca. Mereka juga tidak memiliki sistem perlindungan yang baik sehingga rawan berkonflik dengan warga lokal. 

Menurut Tim Jossep, ahli ekologi dari Universitas Deakin, Australia, perlindungan terhadap komodo di Flores Utara itu sangat penting untuk memelihara keanekaragaman hayati.

(Sumber: www.sciencemag.org)

Editor: Agus L Amsa

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Eps.6: Kuliah di Perancis, Cerita dari Dhafi Iskandar

Insiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak

Inisiatif Masyarkat untuk Wujudkan Hunian yang Layak

Inisiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak

Inisiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak