Pertama Kali, Imigran Kongo Memenangi Pemilihan Wali Kota di Belgia

"Keberhasilan saya, pemilihan saya, menunjukkan arah perjalanan sejarah, menuju ke arah sejarah yang lebih damai. Setiap orang harus menjadikan ini sebagai kemenangan bagi umat manusia."

BERITA | INTERNASIONAL

Selasa, 16 Okt 2018 13:33 WIB

Author

Yogi Ernes

Pertama Kali, Imigran Kongo Memenangi Pemilihan Wali Kota di Belgia

Pierre Kompany (Foto: Herman Ricour)

KBR - Minggu, 14 Oktober 2018 menjadi hari bersejarah bagi negara Belgia. Pasalnya pada hari itu, Pierre Kompany (71 tahun) memenangi pemilihan Wali Kota di Belgia. Hasil ini sekaligus menjadikan Pierre Kompany sebagai orang kulit hitam pertama yang menjabat wali kota di negara salah satu penghasil cokelat terbesar di dunia tersebut.

Dalam sejarahnya, warga kulit hitam Afrika pernah menjadi ras yang dibenci oleh Belgia selama beberapa generasi, di salah satu rezim kolonial Eropa yang paling kejam. Pierre Kompany sendiri melarikan diri dari Republik Demokratik Kongo sebagai pengungsi pada 1975.

Dilansir dari The New York Times, Pierre Kompany mengungkapkan, kemenangan ini bentuk kemajuan di Belgia. Akhirnya, kata dia, Belgia mampu menyatukan orang-orang yang sebelumnya dieksploitasi bahkan hampir dimusnahkan.

"Keberhasilan saya, pemilihan saya, menunjukkan arah perjalanan sejarah, menuju ke arah sejarah yang lebih damai. Saya pikir tiap orang harus menjadikan ini sebagai kemenangan bagi umat manusia secara keseluruhan," kata Pierre Kompany, Senin (15/10/2018) waktu setempat.

Ia yang pernah menjadi anggota dewan di kota Ganshoren pada 2006, telah menetapkan sebuah prioritas dalam masa kampanyenya mencalonkan wali kota. Dalam janjinya, ia mengatakan bakal membantu para lansia, memperluas ketersediaan penitipan anak dan, memperbanyak lapangan sepakbola.

Khusus janji yang terakhir, hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari fakta bahwa ia memiliki seorang anak bernama Vincent Kompany. Putranya itu dikenal sebagai pemain bola profesional dan menjadi kapten di kesebelasan Manchester City.

Mathieu Zana Etambala, profesor dan pakar sejarah kolonial Afrika terharu dan bangga atas kemenangan Pierre Kompany.

"Saya dan seluruh komunitas Kongo bangga bahwa seorang kulit hitam secara langsung dipilih oleh orang Belgia di sebuah kota seperti Ganhoren, yang mungkin hanya memiliki 100 orang asal Kongo," jelas Etambala dikutip dari The New York Times.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Ada yang Tahu Sosok Alfred Russel Wallace?

Terkait Aksi Bom Bunuh Diri di Markas Polisi

Kabar Baru Jam 15

Pemprov Jatim Minta Masyarakat Waspadai Dugaan Penipuan Seleksi CPNS