Pelaku Penembakan Massal di Kampus Rusia Sempat Cerita Jadi Korban Perundungan

Vladislav Roslyakov melepaskan tembakan di sekolah teknik di Kerch, tembakan tersebut menewaskan 20 orang, dan lebih dari 40 orang terluka, setelah itu dirinya bunuh diri.

BERITA | INTERNASIONAL

Jumat, 19 Okt 2018 15:12 WIB

Author

Tyas Sukma Amalia

Pelaku Penembakan Massal di Kampus Rusia Sempat Cerita Jadi Korban Perundungan

Seorang penyelamat dengan salah satu korban terluka dalam serangan terhadap sebuah perguruan tinggi teknik di Krimea. AFP/-

KBR - Presiden Rusia, Vladimir Putin menyebut penembakan massal di salah satu kampus di Krimea terjadi akibat globalisasi. "Ini semua akibat globalisasi. Semua bermula dari kejadian-kejadian tragis di beberapa sekolah Amerika Serikat," kata Putin, Kamis (18/10/2018).

Vladislav Roslyakov (18) melepaskan tembakan di sekolah teknik di Kerch, sebuah kota di semenanjung krimea. Tembakan menewaskan 20 orang, dan lebih dari 40 orang terluka, setelah itu dirinya bunuh diri. Sang mantan kekasih menyatakan, pelaku beraksi atas dorongan balas dendam lantaran perundungan yang dialami Roslyakov.

"Dia kehilangan kepercayaan pada orang lain saat teman-teman sekelasnya mulai mempermalukan dia karena berbeda," ujar Zlata.

"Vladislav selalu bercerita tentang seringnya dia berkelahi dengan orang-orang di sekitarnya," tambahnya. 

Gadis itu putus dengan Roslyakov sebelum terjadinya penembakan massal. Namun, dia mengaku mantannya itu tertarik dengan hal-hal terkait menembak. "Saya minta maaf kepada orang-orang yang ditembak, dan saya sangat berduka karena dia bunuh diri. Dia merupakan teman yang sangat baik," ungkapnya.

Pada ruas-ruas jalan sekitar kampus, para pendeta ortodoks memimpin doa dan ibadah pelipur duka, menenangkan para kerabat korban.

"Di mana para penjaga kampus? Di mana orang-orang yang biasanya berjaga? Mengapa anak-anak itu dibiarkan mati tertembak sia-sia?" kata seorang perempuan dari kerumunan.

Pemerintah yang didukung Rusia di Crimea menerbitkan daftar korban, yang sebagian besar adalah remaja.

Menanggapi segala pertanyaan dan kritik, pemimpin pemerintahan Krimea, Sergei Aksyonov mengatakan pelaku tak mungkin beraksi sendiri. "Di lapangan, dia memang beraksi sendiri, itu memang sudah diketahui. Namun, menurut saya dan beberapa rekan saya, dia tak mungkin melakukan segala persiapan sendiri," kata Sergei Aksynov.

Wakil Badan Keamanan Federal Rusia (FSB), Segei Smirnov pun menuturkan aparat harus meningkatkan pengawasan di internet untuk mencegah hal serupa terulang kembali.

"Bagi kaum profesional seperti kami, sudah diketahui sejak lama bahwa dunia maya harus diawasi oleh otoritas terkait. Tanpa pengawasan, tak mungkin menjamin pemeriksaan keamanan informasi dan memerangi ancaman terorisme modern tepat waktu," katanya Sergei Smirnov.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERNASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Menanti Gebrakan Presiden Jokowi di Periode Ke-2

Kabar Baru Jam 12