Australia Minta Maaf ke Para Korban Pelecehan Seksual

“Kami minta maaf. Kepada anak-anak. Kami gagal, maaf. Kepada orang tua yang kepercayaannya dikhianati, maaf, " ujarnya dikutip dari Reuters.

BERITA | INTERNASIONAL

Senin, 22 Okt 2018 14:48 WIB

Author

Pricilia Indah Pratiwi

Australia Minta Maaf ke Para Korban Pelecehan Seksual

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison berdiri sebelum menyampaikan permintaan maaf nasional kepada para penyintas pelecehan seksual anak di Dewan Perwakilan di Gedung Parlemen di Canberra, Australia, 22 Oktober 2018. AAP / Mick Tsikas / via REUTERS

KBR - Ratusan orang berkumpul di pusat kota Canberra, Australia, pada Senin (22/10/2018), untuk mendengarkan permintaan maaf nasional dari pemerintah terkait kasus pelecehan seksual anak yang melanda Australia.

Permintaan maaf disampaikan Perdana Menteri Australia, Scot Morrison, melalui sebuah pidato. Langkah ini merupakan buntut dari penyelidikan lima tahun, yang menemukan puluhan ribu anak mengalami pelecehan di lembaga-lembaga negara, dan organisasi seperti gereja, sekolah, dan klub olahraga selama beberapa dekade.

"Hari ini, sebagai sebuah bangsa, kita menghadapi kegagalan untuk mendengarkan, percaya, dan memberikan keadilan," kata Morrison kepada anggota parlemen di ibukota Australia, Canberra.

"Kami minta maaf. Kepada anak-anak. Kami gagal, maaf. Kepada orangtua yang kepercayaannya dikhianati, maaf," ujarnya dikutip dari Reuters. Dengan suaranya yang bergetar, Morrison mengakui kegagalan institusi dan berempati kepada penderitaan para korban

Berikut ini kutipan pidato Morrison, dikutip dari BBC

Saat seorang korban baru-baru ini berkata kepada saya: "Itu bukan musuh asing yang melakukan ini kepada kami. Ini dilakukan oleh orang Australia kepada orang Australia, musuh di tengah-tengah kami, musuh di tengah-tengah kami. Musuh-musuh tak berdosa.

Itu terjadi hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dekade demi dekade, siksaan yang tak henti-hentinya. Ketika seorang anak berbicara, mereka tidak dipercaya dan kejahatan berlanjut tanpa mendapat hukuman. Satu orang yang selamat mengatakan kepada saya bahwa ketika dia memberi tahu seorang guru tentang pelecehannya, guru itu kemudian menjadi pelaku berikutnya: kepercayaan dipatahkan, tidak berdosa dikhianati, kekuasaan dan posisi dieksploitasi untuk kejahatan.

Kelompok-kelompok pendukung mengatakan, para korban telah melakukan perjalanan dari seluruh negeri untuk mendengar permintaan maaf di Canberra.

"Mereka datang dengan hati yang sangat berat," kata Leonie Sheedy, kepala eksekutif Care Leavers Australasia Network. Morrison berjanji akan mengawasi dengan lebih ketat, meskipun beberapa korban mengatakan pemerintah telah gagal.

"Jika mereka berpikir mengatakan maaf akan menyelesaikannya, tetapi tidak," Tony Wardley, yang mengalami pelecehan pada 1980-an, Reuters melaporkan. "Masih banyak yang harus dilakukan."

Australia membuat skema ganti rugi tahun ini untuk membayar kompensasi masing-masing korban pelecehan hingga $ 150.000 atau Rp 2,3 miliar.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Sejumlah Daerah Protes Hasil Survei Indeks Kerukunan Umat Beragama

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Pancasila Merajut Keberagaman Indonesia

Kabar Baru Jam 13