Share This

Media Sosial Gantikan TV sebagai Sumber Berita

Facebook menjadi tempat utama mengkonsumsi berita.

BERITA , INTERNASIONAL

Rabu, 15 Jun 2016 08:53 WIB

Ilustrasi (Foto: Pexel)

Ilustrasi (Foto: Pexel)

KBR – Penelitian terbaru menemukan kalau media sosial telah mengalahkan posisi TV sebagai sumber berita untuk anak muda.

Laporan yang dibuat oleh The Reuters Institute for the Study of Journalism itu merinci, dari orang-orang berusia 18-24 tahun yang disurvei, 28 persen memilih media sosial sebagai sumber berita, sementara ada 24% yang memilih TV. Selain itu, 51% orang dengan akses internet juga akan memilih media sosial sebagai sumber berita.

Tren ini, juga semakin tingginya jumlah orang yang mengakses berita lewat ponsel, ikut mengancam model bisnis yang secara tradisional dijalankan banyak media.

Facebook dan media sosial lainnya kini tak sekadar jadi ‘tempat menemukan berita’ dan menjadi tempat untuk mengkonsumsi berita itu sendiri. Berita yang diperoleh lewat media sosial utamanya popular untuk kelompok perempuan dan anak muda.

Hasil penelitian ini menempatkan Facebook sebagai sumber berita utama (digunakan oleh 44% orang yang disurvei), di posisi selanjutnya ada YouTube (19%) dan Twitter (10%).

Laporan tahun kelima ini diperoleh dari penelusuran YouGov yang mensurvei 50 ribu orang di 26 negara. Dari 26 negara itu kebanyakan adalah negara-negara Eropa, juga Amerika Serikat, Australia, Jepang dan Korea Selatan. (BBC, DigitalNewsReport.org) 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.