Ini Dampaknya Jika Praktik Perdagangan Anjing Tak Dihentikan

Permasalahan perdagangan anjing ini bukan hanya sebatas soal animal walfare, permasalahan tersebut akan menjalar ke banyak sisi kehidupan masyarakat.

INTERMEZZO

Rabu, 07 Nov 2018 15:34 WIB

Author

Yogi Ernes

Ini Dampaknya Jika Praktik Perdagangan Anjing Tak Dihentikan

Foto: Jung Yeon-Je/AFP/Getty Images

KBR, Jakarta – Di Asia, diperkirakan ada 30 juta anjing yang dibunuh untuk dikonsumsi oleh manusia setiap tahun. Indonesia sendiri menyumbang sekitar satu juta anjing yang dijadikan bahan konsumsi tiap tahunnya. Kondisi ini menggugah beberapa kelompok yang tergabung dalam Koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI) untuk melakukan kampanye menghentikan konsumsi daging anjing. Jika anjing tersebut terkena rabies, maka akan lebih berbahaya lagi bagi kesehatan manusia.

Arya Diandara Salvator, Creative Campaign Coordinator Jakarta Animal Aid Network (JAAN) dan perwakilan koalisi DMFI  mengatakan upaya perlindungan terhadap anjing sebagai bahan konsumsi sudah dilakukan sejak lama. Bahkan JAAN sudah melakukan investigasi mengenai perdagangan anjing di beberapa kota di Indonesia seperti Yogyakarta, Ciamis, Cilacap, Jakarta dan Palangkaraya.

“Kita juga pernah kerjasama dengan Animal Friends Yogyakarta untuk mengkampanyekan dogs are not food. Namun karena cakupannya kurang nendang jadi kampanye tersebut agak kurang hasilnya,” ujar Diandara dalam program Ruang Publik KBR, Rabu (7/11/2018).

Koalisi DMFI terdiri dari beberapa organisasi yang menaruh kepedulian yann sama seputar animal welfare. Di antaranya Human Society Internasional, Animal Friends Yogyakarta, Change for Animal Foundation, serta Animal Asia. Pemerintah menjadi target utama dari koalisi DMFI. Saat ini mereka mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan terhadap permasalahan perdagangan anjing.

Apa yang membuat koalisi DMFI ini menjadikan pemerintah sebagai target utama kampanye mereka?

Lewat investigasi yang dilakukan oleh JAAN, Diandara menjelaskan jika permasalahan perdagangan anjing ini bukan hanya sebatas soal animal welfare. Permasalahan tersebut akan menjalar ke banyak sisi kehidupan masyarakat.

Sektor kesehatan masyarakat lewat wabah rabies menjadi hal yang paling mengancam jika praktik perdagangan anjing tidak ditindak tegas. Hasil temuan dari koalisi ini mendapatkan jika pada rumah-rumah jagal tempat pemotongan anjing, tidak ada regulasi yang mengatur anjing harus sehat. Mereka mencampur semua antara anjing yang sehat dan terkena rabies atau penyakit-penyakit lainnya.

“Bahkan yang kita temui itu banyak potongan-potongan daging anjing yang tidak dipakai dibuang di got (saluran air). Daging-daging tersebut akhirnya dikonsumsi oleh kucing-kucing liar/kampung yang sehat dan pada akhirnya terjangkit rabies juga. Jika kucing-kucing tersebut menggigit anak-anak, kan itu bisa bahaya,” jelas Diandara.

“Jadi ada efek domino dan bom waktu yang siap meledak dari permasalahan perdagangan anjing ini jika terus dibiarkan,” sambungnya.

Indonesia, memiliki wacana bebas dari penyakit rabies pada tahun 2020 nanti. Namun, jika tidak ada langkah tegas yang diambil terkait masalah perdagangan anjing, mustahil target di 2020 tersebut bisa terwujud. Bahkan, data dari organisasi kesehatan dunia (WHO) menyebutkan jika perdagangan anjing untuk dikonsumsi adalah penyebab utama penyebaran rabies di Indonesia.

Dampak dari perdangan anjing yang juga disoroti oleh koalisi DMFI, dan jarang mendapat perhatian dari masyarakat adalah  efek psikologis kepada anak-anak yang tinggal di rumah-rumah jagal hewan.

Anak-anak yang terbiasa melihat proses penjagalan terhadap anjing, menurut temuan dari DMFI akan mengurangi atau bahkan menghilangkan sikap empati mereka.

“Mereka akan menganggap itu menjadi hal biasa. Kami juga mendapatkan data research dari FBI yang menunjukkan ketika para pelaku kasus pemerkosaan dan pembunuhan dicek ulang historisnya, maka akan ditemukan jika di masa kecilnya mereka sudah terbiasa dalam menyiksa hewan,” ujar Diandara.

Mengingat efek domino yang akan dihadapi oleh masyarakat dan pemerintah, koalisi DMFI terus mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menghentikan kasus perdagangan anjing.

“Salah satu caranya masyarakat bisa mengunjungi alamat situs kami. Di sana ada materi edukasi seputaran animal welfare yang bisa disebarluaskan,” kata Diandara.

DMFI sendiri bersyukur jika petisi tentang seruan menghentikan perdagangan anjing yang mereka buat tahun lalu,  mendapatkan dukungan mencapai satu  juta dari masyarakat Indonesia.

Diandara mengatakan, jika lewat petisi tersebut masyarakat dan dinas-dinas terkait yang sudah diajak ketemu akhirnya sadar jika masalah perdagangan anjing adalah isu nasional. Ia menambahkan jika saat ini pihaknya sedang berupaya membawa petisi tersebut kepada Presiden Jokowi, agar pemerintah bisa segera membuat langkah strategis dalam menuntaskan permasalahan perdagangan anjing ini.

 
  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERMEZZO

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Mendikbud Nadiem Makarim Diminta Perbaiki Mental dan Moralitas

Kabar Baru Jam 15