Peneliti Temukan Mikroplastik di Tubuh Manusia

Penulis memperkirakan bahwa lebih dari 50% populasi dunia kemungkinan memiliki mikroplastik dalam kotoran mereka.

BERITA , INTERMEZZO

Kamis, 25 Okt 2018 13:07 WIB

Author

Pricilia Indah Pratiwi

Peneliti Temukan Mikroplastik di Tubuh Manusia

Ilustrasi. (Foto: Colourbox)

KBR - Sebuah penelitian menunjukan bahwa mikroplastik telah ditemukan di kotoran manusia. Studi ini meneliti delapan orang dari Eropa, Jepang, dan Rusia. Mikroplastik didefinisikan sebagai partikel berukuran kurang dari 5 mikrometer yang bisa mencemari lingkungan.

Mikroplastik, dapat ditemukan dari pelbagau sumber seperti kosmetik, pakaian, dan proses industri.

Penelitian tersebut menemukan sekitar 20 partikel mikroplastik dalam setiap 10 gram ekskreta. Ditemukan sembilan jenis plastik yang berbeda pada 10 varietas yang diuji. Mikroplastik yang ditemukan memiliki ukuran partikel yang berbeda mulai dari 50 hingga 500 mikrometer. Plastik jenis polypropylene dan polyethylene terephthalate adalah yang paling umum ditemukan.

Berdasarkan penelitian ini, penulis memperkirakan lebih dari 50% populasi dunia kemungkinan memiliki mikroplastik dalam kotoran mereka. Namun, peneliti menekankan perlu dilakukan penelitian berskala lebih besar untuk mengonfirmasi dugaan tersebut.

Penelitian sebelumnya menunjukan mikroplastik terdapat pada ikan. Selain itu, mikroplastik juga ditemukan di air keran di seluruh dunia, di lautan, dan di serangga terbang.

Baca juga: Penelitian: Mikroplastik Menyebar Melalui Serangga Terbang

Sumber-sumber plastik yang ditemukan dalam sampel kotoran manusia tersebut tidak diketahui. Namun, melalui buku catatan makanan mereka, kedelapan orang yang diteliti terpapar plastik saat mereka mengonsumsi makanan yang terbungkus plastik, atau minum dari botol plastik. Enam dari delapan orang ini memakan ikan laut. Dan tidak satu pun dari mereka yang vegetarian.

Badan Lingkungan Austria melakukan tes menggunakan prosedur baru untuk mengetahui sejauh mana mikroplastik dalam rantai makanan.  Sampel dari delapan subjek tersebut dikirim ke laboratorium di Wina dan dianalisis menggunakan mikroskop inframerah Fourier-transform.

"Ini adalah penelitian pertama dari jenisnya dan menegaskan apa yang telah lama kita duga, bahwa plastik pada akhirnya mencapai usus manusia. Yang menjadi perhatian khusus adalah apa artinya ini bagi kami, dan terutama pasien dengan penyakit saluran cerna," kata Philipp Schwabl, seorang peneliti di Universitas Kedokteran Wina yang memimpin penelitian ini.

Investigasi di Italia juga menemukan mikroplastik dalam minuman ringan. Selain itu, burung yang terdapat plastik dalam tubuhnya mengalami gangguan penyerapan zat besi pada usus kecil.

"Partikel-partikel mikroplastik terkecil mampu memasuki aliran darah, sistem limfatik, dan bahkan dapat mencapai hati," kata Schwabl yang akan melaporkan pada studi di UEG Week di Wina.

"Sekarang kita memiliki bukti pertama untuk mikroplastik di dalam manusia, kita perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami apa artinya ini bagi kesehatan manusia," tuturnya lagi.

Menurut para peneliti, partikel-partikel plastik di usus dapat mempengaruhi respons kekebalan sistem pencernaan atau dapat membantu transmisi bahan kimia dan patogen beracun.

Penggunaan plastik sangat tinggi dalam kehidupan modern ini. Dilansir dari The Guardians, satu juta botol plastik dibeli di seluruh dunia setiap menit dan jumlahnya diperkirakan akan melonjak 20% lagi pada 2021. Para penulis peneltian ini menekankan, perlunya upaya mengurangi penggunaan plastik dengan meningkatkan daur ulang dan meningkatkan pembuangan jika diperlukan.

Tekanan untuk aksi sedang tumbuh. Awal tahun ini, parlemen Eropa memberikan suara untuk larangan penggunaan mikroplastik dalam produk kosmetik di Uni Eropa.

Komisi Eropa juga telah mengusulkan pelarangan produk plastik sekali pakai seperti cotton buds dan sedotan plastik dan mendesak negara-negara anggota untuk bertanggung jawab membersihkan limbah pada produsen demi membersihkan lautan. Beberapa negara telah melarang kantong plastik sepenuhnya, dan semakin banyak kota, termasuk banyak di AS, sedang membahas langkah untuk melarang sedotan dan barang sekali pakai lainnya.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.