Menjaga Kenaikan Suhu Tak Lebih dari 1,5 Derajat Celcius

Hasil laporan tersebut menuntut kontribusi dari Indonesia dalam menjaga kenaikan suhu bumi tidak menyentuh angka 1,5. Salah satu langkah utama pemerintah adalah dengan berupaya menurunkan emisi gas rumah kaca

BERITA , INTERMEZZO

Rabu, 17 Okt 2018 19:03 WIB

Author

Yogi Ernes

Menjaga Kenaikan Suhu Tak Lebih dari 1,5 Derajat Celcius

Dampak Perubahan Iklim (Foto: Jobilo75/Flickr/Creative Commons)

KBR, Jakarta - Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah panel ilmiah yang terdiri dari para ilmuwan dari seluruh dunia baru saja mengeluarkan laporan berjudul Global Warming of 1.5°C, pada Senin, 8 Oktober 2018.

"Jadi inti dari laporan yang disusun oleh 900 penulis ahli ini menjelaskan dampak negatif jika bumi yang kita tinggali mengalami kenaikan suhu sebesar 1,5 derajat celcius," jelas Yesi Maryam dalam program Ruang Publik KBR, Jumat (12/10/2018).

Yesi Maryam, seorang Public Outreach Officer Institute for Essential Sevices Reform mengatakan kini suhu bumi meningkat 0,7-0,8 derajat celcius. Namun efek yang sudah ditimbulkan dari kenaikan suhu itu bisa kita rasakan. Semisal musim kemarau panjang atau kenaikan hawa panas meski pada malam hari.

Hasil laporan menuntut kontribusi Indonesia dalam menjaga kenaikan suhu bumi agar tidak menyentuh angka 1,5. Salah satu langkah utama pemerintah adalah berupaya menurunkan emisi gas rumah kaca.

"Indonesia menyiapkan dua skenario. Pertama, dengan usaha sendiri kami menargetkan penurunan gas emisi sebesar 29 persen pada tahun 2030," terang Deon Arinaldo, peneliti dari Energi Institute for Essential Services Reform.

"Skenario kedua adalah jika kita mendapatkan bantuan internasional, kita menjanjikan penurunan gas emisi hingga sebesar 41 persen," lanjut Deon.

Ia pun mengatakan jika Indonesia saat ini terikat dan harus patuh kepada laporan terbaru dari IPCC. Hal ini didasari karena Indonesia menjadi salah satu negara yang ikut menandatangani perjanjian iklim di Paris beberapa tahun lalu.

"Posisi kita itu tidak seperti Amerika misalnya. Donald Trump kan selalu bilang kalau dia engga ikutan sama hiruk-pikuk perjanjian Paris dan sering bilang kalau dia engga percaya climate change," kata Deon kepada KBR.

Salah satu masalah yang kerap ditemui oleh pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca mnegenai pengelolaan tata ruang. Hingga hari ini, pemerintah belum memiliki grand design yang jelas soal daerah mana saja yang boleh diizinkan untuk pembangunan industri, serta daerah mana saja yang digunakan untuk perumahan dan ruang hijau.

Kebakaran hutan juga masih menjadi musuh pemerintah dalam menurunkan gas emisi rumah kaca. Pada 2017, Indonesia menempati peringkat 7 dari seluruh penghasil emisi di dunia atau sebesar 1,7 persen.

"Kebakaran hutan kan itu disebabkan oleh dua faktor. Yang pertama karena memang suhu yang luar biasa panas. Kedua, karena memang pembukaan lahan atau pembakaran yang sengaja dilakukan untuk kepentingan industri. Di Indonesia, masalah kebakaran hutan sering disebabkan oleh faktor kedua," ungkap Yesi.

Poin berikutnya, yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah Indonesia menurunkan gas emisi adalah masih terjebak dengan paradigma menggunakan energi fosil yang masif. Perpindahan penggunaan energi fosil ke energi terbarukan jadi syarat yang harus dijalankan oleh pemerintah untuk memastikan target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29% tercapai.

Dalam sesi akhir perbincangan, baik Yesi dan Deon mengatakan perkara menjaga kenaikan suhu tidak lebih dari 1,5 derajat celcius, bukan hanya urusan pemerintah. Melainkan juga bisa dilakukan masyarakat lewat hal-hal sederhana.

"Paling gampang itu kita bisa berkontribusi lewat menanam pohon di rumah. Intinya perbanyak ruang terbuka hijau. Contoh lainnya seperti mematikan lampu dan mencabut colokan listriknya setelah tidak dipakai," jelas Yesi.

"Lalu yang juga mesti dibiasakan itu mengurangi penggunaan barang-barang sekali pakai, seperti plastik misalnya. Yang pasti gerakan ini harus menjadi sebuah usaha bersama, antara pemerintah dan masyarakat biasa," sambungnya lagi.




Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERMEZZO

Most Popular / Trending

Eps.2: Kuliah di UK, Cerita dari Rizki Putri Part 2

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17