Mengulik Dampak Buruk Industri Kelapa Sawit dari Balik 'Sigek Cokelat'

‘Sigek Cokelat’ bercerita tentang petani sawit di Kalimantan Barat, serta bagimana industri kelapa sawit di sana berdampak pada lingkungan dan warga setempat.

BERITA | INTERMEZZO

Jumat, 05 Okt 2018 16:19 WIB

Author

Angelina Legowo

Mengulik Dampak Buruk Industri Kelapa Sawit dari Balik 'Sigek Cokelat'

Film Sigek Cokelat karya sutradara Ashram Shahrivar (Foto: Ashram Shahrivar / voaindonesia.com)

KBR, Jakarta - Satu lagi karya anak bangsa berhasil sukses di kancah internasional. Film pendek ‘Sigek Cokelat’ atau ‘A Chocolate Bar’ karya sutradara Indonesia, Ashram Shahrivar. Film ini menang di ajang Life After Oil Internasional Film Festival di Sardinia, Italia, September lalu.

Menggunakan pendekatan awal dari sigek cokelat--yang berarti sebatang cokelat-- Ashram ingin menyampaikan hal-hal yang terjadi dibaliknya, termasuk industri kelapa sawit yang menghasilkan salah satu bahan untuk pembuatan cokelat. ‘Sigek Cokelat’ bercerita tentang petani sawit di Kalimantan Barat, termasuk kisah mengenai keluarganya dengan kesusahpayahannya untuk mencari uang, serta bagaimana industri kelapa sawit di sana berdampak pada lingkungan dan warga setempat.

“Dari sigek cokelat ini sebetulnya aku ingin menyampaikan apa yang memang terjadi disana dari hal buruk-baik. Intinya karena dari diri sendiri aku pengen memperlihatkan bahwa dari sebatang cokelat itu aja ada sesuatu di baliknya, sesuatu yang cukup problematic dan besar gitu. Jadi, makanya aku submit ke beberapa festival itu, untuk bisa ditonton banyak orang dan orang itu sendiri bisa, at least, dapat informasi tentang itu,” kata Ashram kepada KBR, Jumat (05/10/2018).

Menurut Ashram, cokelat merupakan salah satu hal yang dekat dengan kebanyakan orang dan cukup sering dikonsumsi, sehingga melalui pendekatan ini, ia berharap film tentang lingkungan akan lebih mudah dicerna masyarakat.

“Orang-orang tahu cokelat tuh apa. Dengan cara itu aku masuk ke wilayah sawit, dengan hasil riset dan lain-lain memang banyak cokelat yang masih ada bahan dari kelapa sawit itu sendiri. Jadi untuk lebih mudah dicerna oleh orang.” jelasnya.

Dilansir dari VOA, film berdurasi 15 menit ini juga menjadi “official selection” atau dipilih secara resmi oleh CinemAmbiente Environmental Film Festival di Turin, Italia, Colorado Environmental Film Festival di Colorado, Amerika Serikat, dan London International World Cinema di London, Inggris, dimana Ashram meraih tiga nominasi untuk kategori sutradara terbaik, naskah terbaik, dan film asing pendek terbaik.

“Di Italia ini aku nggak expected untuk bisa menang. Perasaan aku sih seneng banget dan bersyukur aja. Itu bonuslah buat aku bisa menang, tapi intinya aku pengen dilihat sama banyak orang aja film ini,” ujarnya.

Mengulik proses dibalik cokelat yang cukup merusak lingkungan, membuat Ashram lebih berhati-hati dalam mengonsumsi cokelat.

“Dari aku sendiri, setelah itu memang kadang-kadang masih ngecek ingredients-nya di belakang. Kalau memang cokelat itu nggak ada palm oil, atau ada logo sustainable palm oil, itu nggak masalah,” kata Ashram.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERMEZZO

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

KPK akan Mati Suri, Jokowi Didesak Keluarkan Perpu