Share This

Tiga Faktor Ini Sebabkan Bumi 'Bergoyang', Salah Satunya Manusia

Goyangan ini disebabkan oleh tiga faktor. Antara lain pencairan es di Greenland, peluasan wilayah daratan karena es mencair, dan, perubahan di lapisan bumi paling berbatu (mantel bumi).

BERITA , INTERMEZZO

Rabu, 26 Sep 2018 15:07 WIB

Foto: THEBLITZ1/Wikimedia

KBR - Badan Penerbangan dan Antariksa (NASA) menyatakan bumi tidak hanya berputar pada porosnya, melainkan juga 'bergoyang' dengan gerakan yang tidak stabil dari sisi ke sisi. Seperti gasing.

Para Ilmuwan NASA mengatakan goyangan yang disebut 'gerakan kutub' ini merupakan efek yang sangat kecil dan nyaris tidak terlihat dengan peralatan yang sensitif. Dalam satu abad terakhir sumbu bumi telah bergeser kurang lebih 10 meter.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Earth and Planetary Science Letters dilansir dari USA Today, Selasa (25/9/2018) menyebut, goyangan itu disebabkan oleh tiga faktor. Antara lain pencairan es di Greenland, peluasan wilayah daratan karena es mencair, dan perubahan di lapisan bumi paling berbatu (mantel bumi). Berikut bahasannya satu per satu.

Es yang mencair

Pada zaman modern, faktor ini adalah efek yang sangat dipengaruhi oleh manusia. Peningkatan suhu selama abad ke-20 telah menyebabkan es mencair di Greenland--sebuah pulau di Samudra Atlantik bagian utara arah timur laut Kanada. NASA memperkirakan 7.500 gigaton es Greenland atau sama dengan berat lebih dari 20 juta Empire State Buildings, telah mencair ke laut pada abad ke-20.

Mencairnya es, khususnya di Greenland, diyakini para peneliti menyumbang sekitar 33 persen dari efek goyangan, dikutip dari Express. Ketika es kutub mencair, air mengalir ke lautan dan menyebar ke seluruh dunia. Dampaknya, mendestabilisasi rotasi planet.

"Ada efek geometrik bahwa jika Anda memiliki massa yang 45 derajat dari Kutub Utara--yang Greenland--atau dari Kutub Selatan, itu akan memiliki dampak yang lebih besar pada pergeseran sumbu putar Bumi daripada massa yang tepat di dekat Kutub," kata Eric Ivins, seorang peneliti di Jet Propulsion Laboratory bersama rekannya.

Beberapa penelitian menyatakan, pemanasan global berkontribusi pada peningkatan pencairan es di Greenland, Antartika dan bagian lain dunia. Menurut sebuah studi, es mencair mengakibatkan permukan laut setidaknya akan dua kali lebih tinggi pada akhir abad ini dibanding kondisi sekarang.

Agustus lalu, para ilmuwan mengamati beberapa es tebal dan tertua di Arktik--sebelah utara Greenland. Hasilnya, menunjukkan tand-tanda bahwa es tersebut mulai pecah.

Peluasan wilayah daratan

USA Today mewartakan, faktor lain yang diungkap oleh para peneliti adalah rebound glasial. Kondisi di mana massa tanah yang pernah tertekan oleh beban berat dari es, mulai muncul. Ketika es mencair, tanah dan permukaan bumi perlahan-lahan kembali ke bentuk sebelumnya. Para ilmuwan percaya proses tersebut bertanggung jawab atas seluruh goyangan Bumi.

Konveksi mantel bumi

Menurut para peneliti, konveksi mantel juga memperngaruhi goyangan bumi ini.

Dikutip dari Popular Mechanics, proses tersebut merupakan sirkulasi arus magma di bawah bumi yang mendorong pergerakan lempeng tektonik di permukaan planet. Pergerakan itu membikin bobot tidak seimbang. NASA sekarang percaya, keadaan itu turut memengaruhi goyangan Bumi.

Ivins dan penulis utama Surendra Adhikari mengatakan, ketiga faktor tersebut berkontribusi terhadap redistribusi signifikan massa Bumi, yang menyebabkan efek goyangan pada bumi.

"Penjelasan tradisional adalah bahwa satu proses, rebound glasial, bertanggung jawab atas gerakan poros putar Bumi ini," jelas Adhikari.

"Tapi baru-baru ini, banyak peneliti berspekulasi bahwa proses lain bisa memiliki efek besar pada itu juga," tambahnya dilansir dari USA Today.

Penelitian baru itu menunjukkan bahwa manusia bukan saja mengubah lingkungan dan habitat di bumi, bahkan memengaruhi putaran planet itu sendiri. Untungnya, seperti dikutip dari Popular Mechanics, kondisi tersebut adalah salah satu konsekuensi dari perubahan iklim yang tidak berdampak negatif.

Para ilmuwan tidak mengantisipasi reaksi itu. Dan, tidak mencium ada sesuatu yang perlu ditakuti dari sedikit goyangan sumbu tersebut. Namun perkembangan itu merupakan informasi berguna untuk lebih memahami planet tempat manusia hidup.




Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.