Share This

Kaus Ini Bisa Pantau Jantung dan Cegah Stroke

Cardioskin tidak memiliki banyak kabel yang dapat mengganggu saat pemakaian. Hal ini sangat efektif, karena kondisi aktivitas jantung yang tidak normal dapat terdeteksi, meskipun saat tidur

INTERMEZZO

Selasa, 11 Sep 2018 10:08 WIB

Angelina Legowo
Author

Angelina Legowo

Kaus Cardioskin bisa cegah stroke

KBR- Pernah membayangkan kalau tubuh Anda bisa dideteksi oleh kaus yang Anda pakai?  Nah, para peneliti dari perusahaan obat Prancis, Servier, mengembangkan teknologi kaus berbahan katun bernama Cardioskin.

Teknologi ini dapat memonitor aktivitas jantung dan mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi. Selain itu, kaus ini juga bisa membantu melindungi orang dari penyakit stroke, dan membantu mendiagnosis penyebab pingsan.

Kaus ini dapat mendeteksi kondisi jantung berbahaya seperti fibrilasi atrium, yang menyebabkan ritme jantung yang tidak teratur dan meningkatkan risiko stroke. 

Cardioskin tidak memiliki banyak kabel yang dapat mengganggu saat pemakaian, seperti monitor Holter, sehingga nyaman dipakai kapanpun.Kondisi aktivitas jantung yang tidak normal pun dapat terdeteksi, meskipun saat tidur 

Cardioskin memiliki 15 elektroda yang ditenun menjadi bahan, dan ditempatkan di sekitar area dada agar dapat melakukan pemeriksaan pada aktivitas jantung sepanjang waktu. Elektroda ini kemudian terhubung pada kepingan (chip) kecil di pakaian yang akan memancarkan hasilnya ke aplikasi di smartphone pasien.

Aplikasi ini dapat membagikan hasil atau data tersebut kepada ahli jantung atau dokter pasien sehingga mereka dapat memeriksa kondisi jantung pasien tanpa harus membuat janji bertemu langsung. Walaupun mengandung elektroda, kaus ini tetap bisa dicuci hingga 35 kali sebelum perlu diganti baru.  

Cardioskin diluncurkan akhir Agustus lalu dan dipamerkan dalam Kongres European Society of Cardiology 2018. Direktur Proyek Kesehatan WeHealth, David Guez, mengungkapkan kepada Cardiac Rhythm News, teknologi ini dapat mempermudah pasien mendapatkan perawatan kesehatan. “Cardioskin akan memungkinkan pasien untuk memiliki akses perawatan yang lebih cepat dan lebih efektif serta meningkatkan kegiatan sehari-hari para profesional perawatan kesehatan,” katanya.

Harga kaus Cardioskin, memang belum diumumkan, tapi produk ini telah disetujui untuk dijual di Inggris dan diharapkan dapat digunakan akhir tahun ini. 

Kelompok amal Arrhythmia Alliance memperkirakan setidaknya setengah juta orang di Inggris memiliki kondisi jantung yang bermasalah. Namun, kondisi itu tidak dapat  didiagnosis karena tidak ada gejala cukup jelas yang muncul.

Beberapa orang biasanya memiliki gejala seperti nyeri dada, pusing dan kelelahan, tetapi banyak juga yang tidak mengetahui kalau mereka sakit sampai menderita stroke. Satu dari 25 orang yang berusia di atas 60 tahun biasanya mengalami kondisi ini.

Dilansir Daily Mail, Martin Cowie, seorang profesor kardiologi di Imperial College London, mengatakan, penemuan Caedioskin sangat luar biasa dan dapat menjadi perkembangan yang penting bagi ahli jantung. “Sangat luar biasa melihat solusi baru untuk masalah yang sangat nyata dalam mendiagnosis kelainan jantung yang berselang-seling yang dapat menjelaskan kondisi serius seperti sinkop (pingsan) atau stroke," ujar Martin Cowie


 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.