Share This

Hipertensi Paru, Penyakit Langka yang Lebih Mematikan dari Kanker Payudara dan Kolorektal

Menurut catatan YHPI, hipertensi paru lebih sering diderita anak-anak hingga usia dewasa pertengahan. Perempuan lebih banyak yang terkena penyakit hipertensi paru dibanding laki-laki.

BERITA , INTERMEZZO

Selasa, 25 Sep 2018 18:00 WIB

Author

Tyas Sukma Amalia

Hipertensi Paru, Penyakit Langka yang Lebih Mematikan dari Kanker Payudara dan Kolorektal

Ilustrasi: Prof. Dr. Dr. Bambang Budi Siswanto, Sp.JP(K), Fascc, FAPSC, FACC (RS Harapan Kita, Jakarta), Dr. Lucia Kris Dinarti SpPD SpJP (RS Sardjito, Yogyakarta) menjadi narasumber dalam diskusi yang diadakan oleh YHPI Senin, (25/9/2018).

KBR, Jakarta - Komunitas pasien, keluarga dan dokter pemerhati Hipertensi Paru di Indonesia, Yayasan Hipertensi Paru Indonesia (YHPI) mendorong pemerintah untuk mengakselerasi layanan dan pengobatan bagi pasien hipertensi paru. Usulan itu mencuat dalam sebuah diskusi di Holet Raffles, Jakarta Selatan, Senin (24/9/2018) pagi.

Layanan kesehatan meliputi fasilitas pemeriksaan, perawatan, hingga pemenuhan kebutuhan obat-obatan yang luas, berkualitas serta terjangkau.

Penyakit Hipertensi Pulmonal atau Hipertensi Paru merupakan penyakit kronis seumur hidup, di mana terjadi tekanan darah tinggi di pembuluh darah paru yang berhubungan dengan jantung. Kondisi langka ini sangat serius dan fatal. Bila tidak segera didiagnosa dan diobati, maka angka harapan hidup pasien maksimal dua tahun. Tingkat kematian karena hipertensi paru ini lebih tinggi dibanding kanker payudara dan kanker kolorektal.

Berdasarkan data yang dihimpun YHPI selama beberapa tahun terakhir, prevalensi hipertensi paru di dunia adalah 1 pasien per 10.000 orang. Artinya, diperkirakan terdapat 25 ribu pasien hipertensi paru di Indonesia.

Sebanyak 80% pasien hipertensi paru tinggal di negara-negara berkembang. Hipertensi paru sering dikaitkan dengan penyakit jantung bawaan, penyakit paru lainnya (seperti penyakit paru obstruktif kronis, PPOK), autoimun, pembekuan darah (emboli), dan sebagainya.

Menurut catatan YHPI, hipertensi paru lebih sering diderita anak-anak hingga usia dewasa pertengahan. Perempuan lebih banyak yang terkena penyakit hipertensi paru dibanding laki-laki.

"Sayangnya, penanganan hipertensi paru di Indonesia terkendala oleh berbagai faktor, termasuk belum luasnya kesadaran terhadap bahaya penyakit hipertensi paru," ungkap Indriani Ginoto, penderita Hipertensi Paru.

Indriani terdeteksi mengidap penyakit hipertensi paru ringan sejak 1997. Penyebab utamanya, lupus. Ia mengatakan, hingga kini di dunia terdapat sekitar 14 jenis molekul obat hipertensi paru dan baru tersedia empat jenis di Indonesia.

"Sisanya, masih harus difasilitasi oleh pasien sendiri. Itupun harganya perlu lebih terjangkau oleh mayoritas pasien," ungkap Indriani.

Sudah ada satu obat yang bisa menggunakan BPJS yaitu Beraprost. Ia berharap, Sildenafil juga segera bisa didapatkan menggunakan BPJS. "Kami berharap akses atas obat-obatan hipertensi paru termasuk obat-obatan golongan Sildenafil dengan dosis tertentu dapat dipercepat implementasinya," kata dia.

Sementara menurut Bambang Budi Siswanto, dokter di rumah sakit Harapan Kita Jakarta, gejala yang bisa dideteksi di antaranya sesak nafas yang tidak diketahui sebabnya. Jika mengalaminya, maka perlu diwaspadai dan bisa segera melakukan USG jantung atau rekam jantung untuk screening.

Bila sudah mengidap penyakit hipertensi paru, untuk mengetahui kondisi bisa melakukan tes berjalanan enam menit. Orang dengan kondisi sehat bisa jalan lebih dari 300 meter per enam menit. Kalau dalam enam menit hanya bisa berjalan 150 meter maka berarti kondisi tubuh memburuk.

Untuk penderita penyakit ini, sebetulnya tak ada pantangan makanan hanya saja konsumsi garam perlu dikurangi. Selain itu, dalam sehari hanya boleh minum 1 ½ liter air. Dan, masih diperbolehkan olahraga tetapi ada penghitungan khusus.

"Jadi ukuran untuk berolahraga itu ada rumusnya 220 dikurangi umur lalu berapa persen dari angka tersebut. Misalnya, dia cuma boleh 50% dari angka tersebut karena dia memiliki hipertensi paru, lebih dari itu besoknya bisa ambruk, kurang dari itu dia lesu terus jadi serba salah," jelas profesor Bambang.

Saat ini tengah berlangsung penelitian yang diikuti siswa di 58 SD di Yogyakarta. Ada 3.000 sampel anak SD kelas satu yang di-screening dengan stetoskop serta melalui rekam jantung untuk mencari tahu penyakit jantung bawaan yang ada dari lahir. Proyek ini bekerja sama dengan UKS sekolah.

"Sedang ditunggu hasilnya berapa yang positif memiliki penyakit jantung bawaan biasanya pada anak-anak SD ini belum bergejala. Semoga data ini bisa membuka pikiran kita bahwa, bisa lebih murah jika mendeteksi sejak dini tidak menunggu sampai terjadi hipertensi paru" kata Lucia Kris Dinarti, dokter rumah sakit Sardjito, Yogyakarta.

"Satu program lagi yaitu sedang menginisiasi untuk deteksi dini pada perempuan pra-nikah dan ibu hamil. Karena tadi mayoritas adalah perempuan, semoga ini bukan hanya menjadi program Yogyakarta saja tapi menjadi program Indonesia," tambah Lucia.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.