Share This

Remaja Perokok Dan Peminum Miliki Pembuluh Darah Lebih Kaku

Pembuluh darah remaja yang memiliki gaya hidup buruk tersebut akan menjadi lebih kaku di usia 17 tahun, jika dibandingkan dengan mereka yang menjauhkan diri dari rokok atau minuman keras.

BERITA , INTERMEZZO

Rabu, 29 Agus 2018 14:37 WIB

Author

Angelina Legowo

Remaja Perokok Dan Peminum Miliki Pembuluh Darah Lebih Kaku

Remaja yang minum dan merokok memiliki pembuluh darah yang lebih sempit

KBR, Jakarta - Penelitian baru yang dilakukan peneliti Inggris dan Swedia mengungkapkan kalau aktivitas merokok dan minum alkohol atau minuman keras akan meningkatkan risiko terjadinya kekakuan arteri.

Pembuluh darah pada remaja yang memiliki gaya hidup buruk tersebut akan menjadi lebih kaku di usia 17 tahun, jika dibandingkan dengan mereka yang menjauhkan diri dari rokok atau minuman keras.

Dilansir dari The Guardian, salah satu peneliti, John Deanfield yang juga seorang profesor kardiologi di University College London mengatakan kebiasaan merokok dan pola minum berlebihan merupakan hal yang umum. Sehingga, menurutnya, penelitian yang dipublikasikan dalam European Heart Journal ini mungkin berlaku untuk perilaku banyak anak muda di zaman sekarang ini.

Total terdapat 1.266 remaja berusia 17 tahun yang disurvei tentang kebiasaan merokok mereka. Responden juga diminta melakukan pemeriksaan pembuluh darah dengan perangkat non-invesif.

Hasilnya, sebanyak 23,8 persen responden merupakan perokok aktif. Sementara itu, lebih dari 75 persen remaja meminum tiga hingga sembilan jenis minuman beralkohol pada hari kerja, dan lebih dari 10 persen mengatakan mereka minum lebih banyak dari itu.

Tim peneliti menemukan responden perokok berusia 17 tahun memiliki pembuluh darah yang lebih kaku daripada mereka yang tidak merokok.

Semakin dini responden mulai merokok, semakin buruk pula pengaruhnya pada pembuluh darah mereka. Itu berlaku apabila kebiasaan merokok terus dilakukan.

Namun, apabila remaja yang merokok kemudian berhenti, maka ia memiliki tingkat kekakuan pembuluh darah yang hampir sama dengan mereka yang tidak pernah merokok. Intensitas merokok juga mempengaruhi besarnya dampak yang dirasakan.

Berbeda dengan rokok, para peneliti tidak menemukan hubungan antara kekakuan pembuluh darah dengan usia saat minum alkohol dimulai atau seberapa sering seseorang minum alkohol.

Meski begitu, remaja yang memiliki intensitas minum alkohol tinggi memiliki pembuluh darah yang lebih kaku. Tidak peduli seberapa ideal berat badan ataupun kadar kolesterol mereka.

Deanfield menambahkan apabila seseorang secara bersamaan merupakan perokok dan peminum, maka dampak yang mereka rasakan akan lebih besar daripada mereka yang melakukan salah satu faktor, hanya merokok atau minum saja.

Penelitian tersebut tidak dapat dikatakan benar-benar akurat, karena data yang didapat berdasarkan laporan pribadi. Temuan juga lebih menyatakan hubungan sebab-akibat. Selain itu, masih belum jelas apakah kekakuan pembuluh darah pada remaja akan meingkatkan risiko masalah peredaran darah.

Dr Henry Boardman, konsultan kardiologi di Rumah Sakit Universitas Milton Keynes yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan meskipun tingkat kekakuan arteri yang ditemukan pada remaja tidak berbahaya, tren merokok dan minum tetap saja menjadi perhatian penting.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.