Share This

Perlukah Mengajarkan Kesetaraan Gender Sejak Dini Kepada Anak?

Dalam diri anak, ketika minatnya kita matikan atas dasar alasan itu tidak sesuai dengan jenis kelamin mereka, hal tersebut akan membuat sang anak kesulitan lagi menemukan minat dan bakat baru

INTERMEZZO

Jumat, 31 Agus 2018 16:37 WIB

Ilustrasi


KBR, Jakarta-Sering kali kita mendengar bahwa warna pink adalah warna khusus perempuan, laki-laki tidak boleh menggunakan warna tersebut. Lalu sebaliknya mainan mobil adalah milik laki-laki, perempuan tidak boleh menggunakan mainan tersebut.

Pertanyaannya apakah ungkapan yang kita dengar secara turun temurun tersebut benar dan masih relevan di zaman sekarang?

Vera Itabiliana Hadiwidjojo, seorang Psikolog Anak dalam acara Ruang Publik KBR (31/08/18) menjelaskan bahwa tantangan zaman yang berbeda mengharuskan pola asuh anak yang berbeda pula. Menurutnya penting bagi para orang tua saat ini mengajarkan kesetaraan gender kepada anak agar tidak menutup potensi yang terdapat pada anak.

“Kesetaraan gender yang harus diajarkan kepada anak  berarti mereka memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk mencapai apa pun yang mereka mau dalam hidup, dan tidak semata-mata terbatas pada apakah mereka perempuan dan laki-laki.”

Vera menambahkan, hal ini ini penting agar anak tidak terkurung dalam pemikiran sempit.

“Mengajarkan dan memperlakukan anak setara sejak kecil akan membiasakan mereka memperlakukan hal yang sama kepada orang lain ketika kelak mereka dewasa. Anak akan memiliki keluwesan dalam memandang dan berinteraksi dengan orang lain di sekitar mereka”, jelas Vera.

Di sisi lain Vera mengatakan bahwa ketika kesetaraan gender luput diajarkan oleh orang tua kepada anak, hal tersebut akan membatasi potensi anak dan cenderung menimbulkan konsep diri yang negatif kepada anak.

“Dalam diri anak, ketika minatnya kita matikan atas dasar alasan itu tidak sesuai dengan jenis kelamin mereka, hal tersebut akan membuat sang anak kesulitan lagi menemukan minat dan bakat baru. Pada akhirnya hal tersebut akan menimbulan self-esteem yang rendah dalam diri anak. Mereka akan merasa diri mereka buruk, tidak berguna dan tidak memiliki kelebihan apa pun untuk bersaing dalam hidup”.

Peran Orang Tua yang Seimbang Adalah Kunci

Vera bercerita, ada sebuah kasus di mana seorang anak laki-laki di Manado menjadi melambai dan mengenakan atribut perempuan, seperti hijab, akibat sering bergaul dengan perempuan sedari kecil. Untuk menghindari hal tersebut, menurut Vera didikan dari ayah dan ibu yang seimbang adalah kuncinya.

Dari didikan ayah, anak mengetahui tentang peran-peran sebagai lelaki dewasa, sebaliknya dari sisi ibu anak akan belajar tentang caring dan bagaimana cara mengekspresikan perasaaan mereka. Didikan orang tua yang seimbang tersebut akan membuat anak mengerti mengenai gender role dan segala atribut yang mereka kenakan dalam batas wajar.

Menurut Vera, perihal ajaran kesetaraan gender yang disebut kerap berseberangan dengan kebudayaan dan nasihat para leluhur, membuat para orang tua harus bisa meyakinkan. Jika tuntutan dan tantangan zaman yang berbeda harus menghadirkan penanganan dan didikan yang berbeda pula.

Ia kemudian memberikan contoh seperti di budaya orang Batak sering ditemui jika sang anak laki-laki melakukan kesalahan, maka pihak yang akan disalahkan adalah tetap dari anak perempuan, karena adanya anggapan jika anak lelaki itu lebih tinggi posisinya dibanding anak perempuan.

“Dalam konteks tersebut, para orang tua harus sadar bahwa ketika anak melakukan kesalahan maka momen tersebut harus dijadikan momen pembelajaran bagi sang anak. Para orang tua yang masih  terjebak dengan situasi menyalahkan orang lain ketika anaknya melakukan kesalahan, maka orang tua akan menjadikan anak mereka menjadi seorang yang egois, tumpul dan tidak bisa memecahkan masalahnya sendiri,”ungkap Vera.

Vera juga menyarankan, harus ada keterhubungan antara pola asuh kesetaraan gender yang diajarkan para orang tua di rumah dengan pemilihan lembaga pendidikan bagi sang anak.

“Sekolah itu menjadi partner bagi orang tua dalam menjalankan pola asuh kesetaraan gender. Untuk itu bagi orang tua harus memilah lembaga pendidikan mana yang sesuai dengan visi mereka dalam menghadirikan pola asuh kesetaraan gender terhadap anak,” ujarnya.

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.