Share This

Hari Perempuan Internasional: Narasumber dan Wartawan Perempuan Minim

Narasumber laki-laki lebih banyak ditampilkan ketimbang perempuan.

BERITA , INTERMEZZO

Minggu, 11 Mar 2018 14:57 WIB

Diskusi “Wajah Perempuan di Media” di FX Sudirman Mall, Jakarta, Kamis (8/3/2018. Searah jarum jam: Moderator-Timothy Marbun, Pemimpin Redaksi Magdaleine-Devi Asmarani,Penulis Novel-Feby Indirani, Redaktur Eksekutif Tempo-Philipus Parera

KBR- Kalau Anda menonton tayangan berita televisi atau membaca berita online, mungkin narasumber laki-laki lebih banyak ditampilkan ketimbang perempuan. Kalaupun ada perempuan yang dihadirkan atau menjadi moderator dalam sebuah diskusi, biasanya hanya dianggap sebagai pemanis saja, bukan karena kesetaraan gender. 

Penulis Novel,  Feby Indirani, tak menampik hal tersebut, kalau masih banyak media yang memilih narasumber laki-laki daripada perempuan, selain karena jumlah narasumber pria lebih banyak.

“Meski sekarang sudah banyak dosen, sutradara dan penulis perempuan, namun, apakah mereka sudah diakui sebagai intelektual publik? Padahal, salah satu tujuan media adalah untuk merepresentasikan suara perempuan intelektual,” tegasnya dalam Diskusi "Wajah Perempuan di Media" di FX Sudirman Mall, Jakarta, Kamis (8/3/2018).

Agar pemberitaan berimbang, Feby menyarankan media harus memiliki list nama-nama narasumber perempuan. Misalnya mempunyai beberapa nomor kontak ulama perempuan. 

"Selama ini ulama perempuan jarang diwawancarai atau ditanya soal hal-hal yang berhubungan dengan agama. Padahal, ada banyak ulama perempuan yang pintar, sayang sekali kalau tidak dikulik pemikirannya” katanya. 


News Room

Dalam  rapat redaksi, saat pemilihan narasumber, biasanya anggota redaksi langsung kepikiran atau tercetus narasumber laki-laki. Menurut Redaktur Eksekutif Tempo, Philipus Parera, ini terjadi karena gambaran atau kultur di masyarakat, bahwa narasumber laki-laki lebih dipercaya ketimbang perempuan.

Selain masalah kesetaraan gender, kata Philip, ada pula anggapan atau stereotipe yang berkembang di masyarakat soal dunia wartawan. Semisal anggapan  wartawan adalah pekerjaan laki-laki. 

Ia menjelaskan, riset tahun 2017, wartawan perempuan di Amerika banyak yang memegang desk lifestyle, pendidikan dan kesehatan. Sementara wartawan pria, banyak yang meliput soal politik.

“Meski begitu, dalam newsroom Tempo, tak ada perbedaan kesetaraan gender, bahkan kami punya wartawan perang perempuan. Dia begitu perkasa, Mbak Yuli, namanya," Ujarnya Philipus.

Ia menambahkan, di Tempo, komposisi wartawan perempuan lebih sedikit, namun itu hanya proses alami. Karena, saat pembukaan lowongan wartawan, banyak perempuan yang melamar, namun tak lama ketika mereka sudah bekerja mengundurkan diri karena banyak faktor.

Rontoknya satu persatu wartawan perempuan, menurut Pemimpin Redaksi Magdaleine, Devi Asmarani, karena masih banyak kebijakan perusahaan  media yang belum mendorong perempuan untuk mencapai target yang ditentukan. Wartawan perempuan juga tidak difasilitasi, terutama saat mereka memasuki fase berkeluarga. 

“Saya melihat di lapangan, banyak wartawan perempuan, tapi lama-lama tumbang. Salah satunya karena kodrat mereka, yang setelah berkeluarga harus mengurusi anak dan suami. Hal itu memengaruhi perspektif media. Misalnya, soal lama tidaknya masa cuti hamil, atau ada kebijakan agar perempuan tidak mengorbankan kehidupan pribadi mereka,” ujar Devi.


Perlakuan berbeda pemberitaan perempuan dan laki-laki

Menurut Feby, narasumber perempuan karir masih sering ditanyakan soal kegiatannya sebagai ibu rumah tangga. Sementara hal yang sama tidak ditanyakan kepada narasumber laki-laki.

"Ibu masih sempat goreng tempe di rumah?' Kalau nara sumber laki-laki tak pernah ditanya begitu, padahal, bisa saja hal itu juga ditanyakan kepada laki-laki," katanya. 

Devi, juga melihat media masih berbeda memperlakukan antara narasumber atau berita terkait laki-laki dan perempuan. Misalnya, masih banyak media yang mengaitkan perempuan, dengan kecantikan atau penampilan. Tak heran, cara pandang masyarakat belum berubah. 

“Mindset harus diubah. Kalau media masih jauh dari kesetaraan gender, dan masih memakai judul berita dengan kalimat seksis seperti "5 Bupati Cantik” atau “Ditemukan Jenazah Memakai Kutang Merah” bagaimana orang mau menghargai, kalau media masih mengaitkan perempuan dengan kecantikan. Sudah jadi jenazah pun masih dihubungkan dengan baju yang dipakai,” ujarnya.  

Editor: sasmito

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.