Pimpinan Gereja: Banyak Warga Papua Merayakan Natal di Pengungsian

Mereka adalah warga yang terpaksa meninggalkan kampungnya, lantaran ada konflik antara aparat kemanan dan kelompok bersenjata di sejumlah wilayah di Bumi Cenderawasih.

BERITA

Rabu, 22 Des 2021 10:56 WIB

Pengungsian di Papua

Ilustrasi hiasan pohon Natal. Foto: Creative-Commons

KBR, Jayapura- Presiden Gereja Injili di Indonesia atau GIDI, Pendeta Dorman Wandikbo menyebut masih banyak warga Papua yang akan merayakan Natal di pengungsian pada tahun ini. Mereka adalah warga yang terpaksa meninggalkan kampungnya, lantaran ada konflik antara aparat kemanan dan kelompok bersenjata di sejumlah wilayah di Bumi Cenderawasih.

Beberapa daerah yang warganya mengungsi antara lain Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Nduga, dan Kabupaten Puncak. Mereka mengungsi ke wilayah lain yang dianggap aman, bahkan ada di antaranya memilih tinggal di hutan.

"Saudara saudara kita yang ada di daerah Kabupaten Yahukimo di (Distrik) Suru-Suru, kemudian daerah Kabupaten Nduga mereka masih ada pengungsi, kemudian di (Distrik) Ilaga (Kabupaten Puncak) masih ada pengungsi, mereka tidak menikmati Natal. Mereka ada dalam hutan. Kami di sini bisa menikmati suasana (Natal) ini, tetapi saudara saudara kita di kabupaten lain mereka tidak menikmati seperti apa yang kami nikmati di sini," kata Dorman Wandikbo, Rabu (22/12/2021).

Presiden GIDI, Pdt Dorman Wandikbo meminta semua pihak menciptakan suasana damai, agar warga di seluruh Papua bisa merayakan dan menikmati suasana Natal dengan tenang.

Ia juga mengingatkan berbagai pihak, terutama aparat keamanan dan kelompok bersenjata, tidak melakukan tindakan yang dapat menciptakan gangguan keamanan dan meresahkan warga.

Ia menegaskan tidak boleh ada penembakan saat suasana Natal di Papua. Selain itu, ia meminta tidak boleh ada pembakaran fasilitas publik, rumah warga atau apa pun yang dapat memicu ketegangan, serta tidak boleh ada operasi militer.

Penyerangan dan Pengungsian

Jumat, 29 Oktober 2021, kelompok bersenjata membakar sejumlah bangunan di sekitar Bandara Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua. Direktur Reserse dan Kriminal Umum Polda Papua, Faisal Ramadhani mengatakan sebelum melakukan pembakaran, kelompok tersebut terlebih dahulu menembaki kantor Polsek Sugapa. Personel keamanan kemudian membalas, dan terjadi baku tembak.

"Dia melakukan penyerangan kemudian melakukan pembakaran terhadap rumah rumah yang ada di sekitar bandara. Melakukan perusakan dan pembakaran terhadap dua rumah, satu kios dan satu rumah genset kemudian ada dua mobil. Satu mobil ambulance dan satu mobil tanki air," kata Faisal Ramadhani, Senin, (1/11/2021).

Faisal menambahkan, kelompok bersenjata juga menembaki Pos Satgas 521 dan personel BKO Brimob, di perumahan Sekretaris Daerah Kabupaten Intan Jaya. Usai beraksi kelompok pelaku langsung melarikan diri. Pascakejadian itu, situasi di Sugapa, Ibu Kota Kabupaten Intan Jaya, diklaim relatif kondusif.

Namun, aparat keamanan tetap melakukan patroli rutin dan mempersiapkan tim untuk mengejar kelompok pelaku. Kata dia, aparat keamanan di Intan Jaya juga fokus mengamankan warga yang mengungsi di sejumlah gereja di sana.

Sebab, sejak pekan lalu, ratusan warga Intan Jaya kembali mengungsi. Pengungsian terjadi pascaserangkaian aksi baku tembak antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata di sana.

"Pasukan dari Ops Nemangkawi dari gabungan TNI/Polri Ops Nemangkawi itu sudah menguasai bandara sampai sekarang ini sudah dikuasai. Bandara juga sudah diduduki oleh pasukan," ucapnya.

Maybrat

Sementara itu di Kabupaten Maybrat, puluhan anak usia sekolah asal Kampung Kisor, Distrik Aifat Selatan, mengikuti orang tua mereka mengungsi ke berbagai wilayah terdekat sejak September 2021.

Warga Kisor mengungsi, pascapenyerangan Pos Koramil (Posramil) persiapan Kisor oleh sekelompok orang pada 2 September 2021. Penyerangan itu menyebabkan empat anggota TNI tewas, dan beberapa mengalami luka-luka.

Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM perwakilan Papua, Frits Ramandey mengatakan sebanyak 75 anak dari Kisor, ikut mengungsi bersama orang tua ke Kabupaten Sorong.

Mereka belajar sementara di beberapa sekolah dasar (SD) yang ada di sana. Komnas HAM perwakilan Papua telah menurunkan tim untuk memastikan kondisi pengungsi Kisor, di Kabupaten Sorong, akhir Oktober 2021.

Baca juga:

Editor: Sindu

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Survei Sebut Mayoritas Masyarakat Ingin Pandemi Jadi Endemi