Dana Kebudayaan Rp5 Triliun? Budayawan: Prioritaskan untuk Seni yang Tidak Bisa Dijual

"Dana sebesar itu luar biasa ya, untuk Indonesia. Tapi kalau di negara-negara maju, itu nilainya bisa empat kali lipat alokasi dananya. Paling tidak Rp20 miliar dolar."

BERITA , INTERMEZZO

Kamis, 13 Des 2018 22:00 WIB

Author

Iriene Natalia

Dana Kebudayaan Rp5 Triliun? Budayawan: Prioritaskan untuk Seni yang Tidak Bisa Dijual

Budayawan, Jose Rizal Manua (kostum hitam putih). (FOTO : ANTARA)

KBR, Jakarta - Pemerintah berencana mengucurkan dana abadi (perwalian) untuk mendanai kegiatan kebudayaan sebesar Rp5 triliun rupiah. Namun, kalangan budayawan menganggap dana itu masih kurang.

Janji kucuran dana itu disampaikan Presiden Joko Widodo ketika mengundang sekitar 30 seniman dan budayawan di Istana Presiden, Selasa (11/12/2018). Kucuran anggaran itu untuk mempermudah pelaksanaan kegiatan kebudayaan di Indonesia.

Rencana ini disambut baik berbagai pihak, termasuk seniman teater dan budayawan Jose Rizal Manua.

Meskipun demikian, Jose Rizal menganggap jumlah dana Rp5 triliun itu masih kurang jika dibandingkan jumlah seniman setanah air.

"Dana sebesar itu luar biasa ya, untuk Indonesia. Tapi kalau di negara-negara maju, itu nilainya bisa empat kali lipat alokasi dananya. Paling tidak Rp20 miliar dolar. Prancis yang negara kecil aja segitu," kata Jose Rizal ketika dihubungi KBR, Kamis (13/12/2018).

Seniman senior itu mengapresiasi rencana pemerintah mengucurkan dana perwalian, yang merupakan kali pertama di Indonesia.

"Ini yang pertama ya ada perhatian. Penting bagi kesenian, kebudayaan, untuk segala macam yang berhubungan dengan seni. Karena kreatornya banyak sekali," kata penyair yang akrab dipanggil Mas Yos itu.

Selain menyoroti besaran anggaran, Jose Rizal juga menyoroti pentingnya prinsip kehati-hatian dalam mengelola program dana abadi kebudayaan supaya tepat sasaran. Jose Rizal mengatakan jika terwujud nant, dana perwalian itu harus benar-benar digunakan demi memajukan seni dan budaya Indonesia, bukan untuk kepentingan kelompok-kelompok tertentu semata.

Jose juga menganggap perlu satu badan atau pihak bebas kepentingan yang ditunjuk untuk mengelola dana tersebut dengan tepat.

"Harus bersih, tidak ada kepentingan jadi bisa mendistribusikan dana itu ke hal-hal yang urgent, tidak berdasarkan kelompok atau individu yang dia-dia saja. Harus betul-betul untuk seniman di seluruh Indonesia", tambah Jose.

Lantas, kegiatan seni budaya macam apa yang sebaiknya jadi prioritas?

"Paling penting event-event kreatif harus di-support terutama yang pendekatannya tidak komersial. Kalau hiburan kan sudah banyak pasarannya. Banyak sekali seni yang penting tapi tidak bisa dijual. Contoh sederhana, pertunjukan-pertunjukan seni eksperimental. Selain itu juga seni pertunjukan dengan misi-misi kebudayaan Indonesia yang dapat kesempatan ke luar negeri," kata Mas Yos.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.