Ciptakan Anak Toleran dan Berpendidikan Lewat Program Sabang Merauke

Ada tiga nilai utama yang diajarkan di program ini. Ketiga nilai tersebut adalah toleransi, pendidikan, dan cinta Indonesia. Dalam program toleransi, para peserta program Sabang Merauke akan diajarkan membangun semangat persaudaraan dengan orang-orang yan

BERITA

Rabu, 24 Okt 2018 15:47 WIB

Author

Yogi Ernes

Ciptakan Anak Toleran dan Berpendidikan Lewat Program Sabang Merauke

Salah satu kegiatan peserta pada program Sabang Merauke (Foto: @SabangMeraukeID)

KBR, Jakarta – Saat ini ujaran kebencian dan sikap intoleransi tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa. Tidak jarang anak-anak terpapar sikap tersebut dan ikut-ikutan tanpa tahu apa yang mereka katakan atau apa dampak dari ucapan itu.

Hal ini mendorong berdirinya Sabang Merauke, sebuah program yang sudah berjalan mulai tahun 2013. Program ini ini merupakan pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia yang bertujuan untuk menanamkan semangat toleransi.

Dalam program ini, anak-anak dari seluruh Indonesia akan tinggal dengan keluarga yang berbeda dan berinteraksi dengan teman-teman serta lingkungan yang berbeda pula.

Ada tiga nilai utama yang diajarkan di program ini. Ketiga nilai tersebut adalah toleransi, pendidikan, dan cinta Indonesia. Dalam program toleransi, para peserta program Sabang Merauke akan diajarkan membangun semangat persaudaraan dengan orang-orang yang berbeda agama dan suku, serta para kelompok disabilitas.

“Program pendidikan disiapkan agar para peserta ini ketika kembali ke daerahnya masing-masing memiliki bekal untuk membangun daerahnya sendiri, dan program cinta Indonesia, seperti namanya untuk lebih cinta terhadap Indonesia dengan segala perbedaannya di mana itu menjadi tujuan utama program ini,” jelas Reynold Hamdani, Managing Director Sabang Merauke saat berbincang di Ruang Publik KBR, Oktober 2018.

Reynold menjelaskan para anak-anak yang mengikuti program ini adalah mereka yang tengah mengenyam pendidikan kelas 1 dan 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Para calon peserta akan diminta menulis tulisan minimal 10 halaman tentang keberagaman dan toleransi, sebelum akhirnya diseleksi dan dinyatakan lolos oleh tim Sabang Merauke.

“Tahun ini sendiri dari 453 pendaftar, peserta yang diterima hanya 20 orang,” ucap Reynold.

Ketika para peserta sampai di Jakarta, mereka akan tinggal di rumah Famili Sabang Merauke. Ini merupakan keluarga yang memang telah sepakat untuk menjadi tempat tinggal para anak-anak peserta Sabang Merauke.

Sesampainya di Jakarta, para anak-anak tersebut akan mengikuti serangkaian kegiatan yang telah disusun oleh tim Sabang Merauke. Misalnya mengunjungi ke beberapa tempat ibadah, sekaligus berdialog dengan pengurus atau jemaat tempat ibadah setempat.

Reynold menambahkan para peserta juga diajarkan berpikir kritis. Hal ini bertujuan agar para peserta yang masih tergolong muda ini mampu memilah derasnya arus informasi, sehingga tidak mudah terkena hoaks.

Ibu Adri yang menjadi Famili Sabang Merauke 2018 mengaku memiliki kesan tersendiri dari program ini. Ia mengaku meski kedatangan dua anak-anak peserta Sabang Merauke, keluarganya sama sekali tidak mengalami kendala apa pun.

“Karena yang datang ke keluarga kami itu pesertanya dari daerah Temanggung dan Solo yang memang tidak berbeda jauh dengan daerah asal keluarga kami. Tapi ketika kami tahu para pesertanya beragama Kristen, jadi sebelum mereka tiba, kami tuh sudah carikan kira-kira gereja terdekat di rumah ada di mana ya," ucap Ibu Adri kepada KBR.

“Jadi kami perlakukan mereka benar-benar seperti anak sendiri. Ketika mereka ibadah kami antarkan mereka ke gereja. Ini juga membantu anak kandung kami sendiri untuk lebih terbuka dan menghargai orang yang berbeda dengan dirinya," sambungnya lagi.

Ibu Adri mengaku cara paling ampuh dalam memiliki sikap toleransi adalah dengan mengalami interaksi langsung dengan orang yang selama ini berasal dari agama dan suku yang berbeda.

Di akhir perbincangan, Reynold mengaku program Sabang Merauke telah berhasil menghasilkan anak-anak muda yang memiliki jiwa toleran dan mutu pendidikan yang tinggi.

“Kami punya tim alumni yang bertujuan memantau dan keep in touch dengan para alumni Sabang Merauke. Kami senang karena banyak alumni kami yang sudah kuliah di ITB, ada yang jadi mahasiswa pertukaran ke Amerika, ada yang buat buku dan bangun perpustakaan di daerahnya. Kami berharap lebih banyak alumni-alumni berkualitas yang kami ciptakan lewat program ini," kata Reynold.

Editor: Agus Luqman

 

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Mahkamah Konstitusi Gelar Sidang Perdana, Perselisihan Hasil Pemilu

10 Tahun UU Narkotika: Seperti Apa Implementasinya?

Sidang Perdana Sengketa Pemilu

Cek Fakta: Misleading Content KPU Panik

What's Up Indonesia