Tak Puas Hasil Seleksi Pansel, JK Sarankan Ini

lobi pada DPR bisa dilakukan, sebelum ada keputusan dari uji kelayakan dan kepatutan.

BERITA , NASIONAL

Rabu, 04 Sep 2019 18:52 WIB

Author

Dian Kurniati

Tak Puas Hasil Seleksi Pansel, JK Sarankan Ini

Wakil Presiden Jusuf Kalla (Foto: BNPT.go.id)

KBR, Jakarta- Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta kelompok masyarakat yang tidak puas dengan sepuluh nama calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hasil pilihan Panitia Seleksi (Pansel), untuk langsung melobi DPR. Menurutnya, lobi pada DPR bisa dilakukan sebelum ada keputusan dari uji kelayakan dan kepatutan.

JK beralasan, DPR yang akan memilih lima dari sepuluh nama calon pimpinan KPK pilihan Pansel, yang telah disodorkan Presiden Joko Widodo. Menurutnya, Jokowi telah mengikuti prosedur yang diperintahkan Undang-undang KPK, dengan membentuk Pansel independen untuk memilih 10 nama capim.

"Bahwa dia menghasilkan nama itu, itu adalah sesuai alur peraturan. Bahwa ada yang tidak senang dan yang lain senang, itu otomatis saja. Tapi Pansel, pemerintah, tidak bisa dipengaruhi pendapat-pendapat itu. Jadi kalau ada sesuatu yang tidak senang, ya lobilah ke DPR, mana yang tidak disenangi. Pada akhirnya DPR yang menentukan. Itu aturannya, dan harus kita taati peraturan itu. Kan DPR yang memilih lima dari sepuluh," kata JK di kantornya, Rabu (04/09/2019).

JK  menilai, wajar jika ada masyarakat yang tak puas terhadap hasil kerja Pansel KPK, dan kemudian meminta DPR menggugurkan nama-nama yang dianggap bermasalah, agar tak terpilih memimpin KPK.

Sebelumnya, Panitia Seleksi Capim KPK telah menyerahkan sepuluh nama kepada Jokowi, yakni Komisioner KPK, Alexander Marwata, Kapolda Sumatera Selatan, Firli Bahuri, Auditor BPK, I Nyoman Wara, Jaksa, Johanis Tanak, Advokat, Lili Pintauli Siregar, dosen, Luthfi Jayadi Kurnaiwan, hakim Nawawi Pomolango, akademisi Nurul Ghufron, PNS di Sekretariat Kabinet, Roby Arya, dan PNS di Kementerian Keuangan Sigit Danang Joyo.

Dari daftar tersebut, setidaknya ada dua nama yang dinilai memiliki catatan buruk, yakni Firli Bahuri dan Johanis Tanak. 


Editor: Kurniati Syahdan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pemerintah Didesak Cabut Izin Perusahaan Pembakar Lahan