KPAI: Tidak Ada Tuntutan Menghentikan Audisi Bulu Tangkis

KPAI menegaskan bahwa eksploitasi anak terselubung merupakan penilaian dan kesepakatan bersama dengan Kemenpora.

BERITA | NASIONAL

Senin, 09 Sep 2019 21:42 WIB

Author

Muthia Kusuma

KPAI: Tidak Ada Tuntutan Menghentikan Audisi Bulu Tangkis

Sejumlah anak mengikuti Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis 2019 PB Djarum di GOR Satria Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Minggu (8/9/2019). ANTARA FOTO/Idhad Zakaria.

KBR, Jakarta- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengaku tidak pernah menuntut PB Djarum menghentikan audisi umum bulu tangkis.

Komisioner KPAI, Siti Hikmawati mengatakan yang dituntut adalah menampilkan produk rokok pada kegiatan anak-anak, sesuai Undang-undang tentang Perlindungan Anak.


"Jadi kami menyampaikan untuk menghentikan itu dalam konteks karena Djarum menolak ada eksploitasi. Maka kita jelaskan runtutannya," ucap Siti kepada KBR, Senin, (9/9/2019).

KPAI menegaskan bahwa eksploitasi anak terselubung merupakan penilaian dan kesepakatan bersama dengan Kemenpora.

Kesepakatan tersebut sudah ditandatangani sebelum polemik PB Djarum dengan KPAI ini meluas kepada masyarakat. Namun, belakangan Kemenpora mengklaim tidak ada eksploitasi anak dalam program PB Djarum.

Ia menambahkan, KPAI dan PB Djarum memiliki kesepakatan menyelesaikan audisi PB Djarum 2019 hingga putaran final.

Ia berharap, PB Djarum menaati regulasi yang ada, jika berniat melanjutkan audisi pada tahun berikutnya.

Sementara itu, Direktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin menegaskan tetap menghentikan audisi umum pada 2020.

Alasannya, sudah tidak ada titik temu antara PB Djarum dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada rapat koordinasi 4 September 2019 lalu.

"Kita hanya minta kebijakan bahwa 2019 audisi umum masih boleh dilanjutkan dengan usulannya adalah levelnya audisi umum tidak ada kata-kata Djarum lagi," ucap Yoppy kepada KBR, Senin, (9/9/2019).

Yoppy belum dapat memastikan apakah penghentian audisi umum PB Djarum hanya sementara atau selamanya. 


Editor: Ardhi Rosyadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Polisi Sebut Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Beraksi Sendiri

Pemulihan Gambut Pasca Kebakaran

Kabar Baru Jam 15

Soal Portal Aduan ASN Radikal