Share This

Negara dengan Tingkat Kematian Dini yang Tinggi Ada di Sini

PBB menargetkan negara-negara untuk menurunkan tingkat kematian dini sebesar satu per tiga, dan hanya 35 negara yang memenuhi target.

BERITA , INTERNASIONAL

Jumat, 21 Sep 2018 13:32 WIB

Ilustrasi. Tingkat kematian dini meningkat. (Foto: fbc.com.fiji)

KBR - Sebuah penelitian menunjukkan, setengah dari jumlah negara yang ada di dunia ini tidak akan berhasil mencapai target dari PBB untuk menurunkan tingkat kematian dini sebelum tahun 2030. PBB menargetkan negara-negara untuk menurunkan tingkat kematian dini sebesar satu per tiga, dan hanya 35 negara yang memenuhi target.

Berdasarkan sebuah penelitian, pada 2016 setidaknya 12,5 juta orang yang berumur 30-70 tahun meninggal dunia karena penyakit kanker, penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes, serta penyakit pernapasan kronis. Menurut peneliti, upaya pemerintah untuk menurunkan tingkat kematian akibat penyekit-penyakit tersebut masih sangat kecil.

"Donor internasional dan pemerintah nasional melakukan terlalu sedikit untuk mengurangi kematian akibat penyakit tidak menular," kata penulis utama Majid Ezzati, seorang profesor di Sekolah Kesehatan Publik Imperial School London, seperti dilansir AFP Jumat (21/09/2018).

Beberapa negara memang menunjukkan kemajuan dan telah melakukan upaya yang benar, seperti Korea Selatan, Jepang, Swiss, dan Australia. Namun, sekitar 20 negara, yang merupakan negara maju seperti AS dan China, justru mengalami kemunduran dan gagal mencapai target yang ditentukan.

Menurut Ezzati, meningkatnya angka kematian dini ini disebabkan kesehatan masyarakat yang lemah, sistem perawatan kesehatan yang lemah, dan tingkat ketidaksetaraan yang tinggi.

Setidaknya, 17 juta dari 40 juta kematian akibat penyakit tidak menular, termasuk dalam kematian dini. Menurut Katie Dain dari Aliansi NCD, tingkat penyakit tidak menular yang semakin tinggi akan mengancam masa depan masyarakat, menjadi generasi yang berpenyakit.

"Kami harus mengatakan kepada lembaga donor dan bantuan, fokus pada sistem kesehatan secara keseluruhan daripada penyakit per penyakit,” kata Ezzati.

Editor: Citra Dyah Prastuti 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.