Share This

Cerita Warga Berburu Tiket Nonton Final Bulu Tangkis

"Enggak ada pengumuman sold out. Ada orang Inasgoc, dia cuma minta maaf dan berterima kasih atas animo masyarakat, dan dia menyarankan kami untuk nonton di rumah," kata Monic.

BERITA , NASIONAL

Rabu, 22 Agus 2018 13:08 WIB

Ekspresi pebulu tangkis ganda putra Indonesia Marcus Gideon (kanan) dan Kevin Sanjaya (kiri) usai menundukkan pemain Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (21/8). (Foto: ANTARA/ Puspa P)

KBR, Jakarta - Ratusan calon penonton pertandingan final bulu tangkis beregu putra Indonesia melawan China, harus rela tak menyaksikan langsung laga di Istora Senayan, Rabu (22/8/2018) sore. Perkaranya, tiket pertandingan habis terjual.

Kekecewaan diutarakan salah satu penonton, Monica Poi, yang telah sudi mengantre sejak pukul 6 pagi. Namun hingga kini tak jua beroleh tiket. Ia sudah mencoba pindah antrean, dari tiket box hotel Fermon ke tiket box GBK pintu lima. Namun menurutnya panitia pun tidak memfasilitasi penonton dengan baik lantaran hanya menyediakan sedikit tiket.

"Kami sempat konfirm berapa sih sebenarnya yang akan dijual, mereka bilang 1.600 untuk dua sesi. Karena kan pertandingan hari ini ada dua sesi. Pertama beregu putri untuk emas, dan kedua beregu putra untuk emas yang jam 6. Ini orang Indonesia ngantre untuk yang jam 6 sore beregu putra, dalam 15 menit udah hilang 300 tiket entah ke mana," ujar Monic kepada KBR, Rabu (22/08/2018).

"Setelah 300 tiket itu enggak ada ada pengumuman sold out, sampai akhirnya direktur ticketing-nya dari Inasgoc, kalau enggak salah namanya pak Sarman, dia cuma minta maaf dan berterima kasih atas animo masyarakat, dan dia menyarankan kami untuk nonton di rumah," tambahnya lagi.

Monic juga sempat bercerita saat mengantre di barisan pembeli tiket, salah seorang keluarga atlet bulutangkis Polli Greysia tak bisa masuk lantaran tidak mendapat jatah tiket. Hal ini sontak membuat calon penonton geram.

Baca juga:

Sempat pula terjadi keributan di depan loket Tiket Box di gate 5 GBK. Adu mulut dan dorong tak terelakan, anggota kepolisian juga sempat berdatangan untuk melerai keributan itu.

Seperti Monic, Ferri calon penonton asal Tangerang juga mengeluhkan sistem pembelian tiket yang sulit. Sebelumnya ia mengatakan bahwa sempat membeli secara online dari penyedia jasa tiket. Namun karena sistem down dan tak kunjung berhasil maka ia memutuskan untuk membeli secara langsung. Tapi sial, ia tetap tak bisa menonton karena tiket sudah ludes.

"Iya enggak tahu ini mau bagaimana ya, pulang lagi juga sayang. Nunggu kalau mungkin ada kesempatan mungkin, atau beli dicalo. Mau gimana lagi kan, tiket habis sistem juga berantakan," keluh Ferri.

Sementara juru bicara Inasgoc, Danny Buldansyah saat dihubungi KBR menerangkan bahwa tempat duduk penonton dibagi menjadi beberapa bagian. Dan memang tidak semua dijual untuk umum, namun jumlah tersebut pun tidak terlalu banyak. Sehingga habisnya tiket pertandingan ini memang lantaran laris terjual.

Tapi, ia tak bisa memastikan jatah bangku penonton yang diperuntukkan untuk umum tersebut.

"Waduh saya enggak tahu kalo jumlah pastinya, gini karena nomor satu tempat itu yang kami sediakan spare untuk tidak dijual itu VVIP, artinya kalau ada tamu misal dari OCA atau federasi badminton. (Berapa banyak?) Enggak banyak," kata Danny.

"Terus ada juga buat media kami enggak bisa jual ada juga tempat untuk suporter atlet itu enggak bisa dijual, selebihnya bisa dijual. Kami tentunya barangkali kalo belom punya tiket datang saja lebih awal jadi bisa dapat on the spot atau ke orang minta belikan tiket gitu," imbuhnya.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.