Tren Gaya Hidup Pasca-Pandemi, Ini Prediksinya

"Ada kemungkinan dalam situasi kenormalan baru orang-orang akan lebih sering makan di rumah, baik dengan berbelanja bahan makanan dan masak sendiri, ataupun dengan layanan delivery."

BERITA | INTERNASIONAL

Rabu, 27 Mei 2020 15:10 WIB

Author

Adi Ahdiat

Tren Gaya Hidup Pasca-Pandemi, Ini Prediksinya

Ilustrasi: Karya seni instalasi di salah satu mal di Jakarta yang ditutup selama PSBB, Selasa (26/5/2020). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Pandemi Covid-19 telah mengubah perilaku keseharian warga di berbagai belahan dunia. 

Kebiasaan-kebiasaan baru yang muncul akibat pandemi juga diprediksi akan bertahan dalam waktu lama, hingga mengubah gaya hidup dan tren konsumsi masyarakat.

Menurut Eddie Yoon, seorang konsultan bisnis dari Amerika Serikat (AS), beberapa kebiasaan yang akan jadi tren jangka panjang adalah memasak, kerja dari rumah, serta menghindari kerumunan.


Belanja Bahan Makanan dan Masak Sendiri

Eddie Yoon mencatat pada tahun 2017 hanya ada sekitar 10 persen warga AS yang suka memasak di rumah.

Tapi sekarang, survei Hunter Food Study 2020 menunjukkan bahwa sekitar 54 persen warga AS jadi lebih sering masak setelah adanya pandemi Covid-19. Sekitar 35 persennya juga mengaku menikmati kegiatan ini.

"Pada Maret 2020 (awal pandemi), penjualan toko bahan makanan di AS naik sekitar 77 persen dibanding tahun lalu. Sedangkan penjualan restoran turun sekitar 66 persen," tulis Eddie di portal Harvard Business Review, Selasa (26/5/2020).

"Ada kemungkinan dalam situasi kenormalan baru orang-orang akan lebih sering makan di rumah, baik dengan berbelanja bahan makanan dan masak sendiri, ataupun dengan layanan delivery," lanjutnya.

Eddie menilai kebiasaan memasak ini juga berkembang seiring dengan meluasnya penerapan work from home atau kerja dari rumah.


Kerja dari Rumah

Eddie Yoon memprediksi ke depannya akan ada banyak perusahaan yang mempertahankan sistem kerja dari rumah.

"Google sudah menyatakan mayoritas karyawannya bisa kerja dari rumah sampai 2021. Twitter juga menyatakan karyawannya bisa kerja dari rumah secara permanen, bahkan sampai pandemi usai," jelas Eddie.

"Penerapan kerja dari rumah pasti akan meningkat lagi setelah para profesional menemukan cara untuk tetap produktif di luar kantor," lanjutnya.

Menurut Eddie, sejumlah perusahaan di AS juga sudah berencana mengurangi anggaran sewa atau pemeliharaan gedung kantor, kemudian mengalihkannya untuk tunjangan karyawan.


Menghindari Kerumunan

Eddie Yoon juga memperkirakan kekhawatiran penularan Covid-19 akan membuat masyarakat terus berupaya menghindari kerumunan.

Akibatnya, berbagai bisnis yang mengandalkan kunjungan konsumen harus merancang model usaha baru yang sesuai dengan kondisi ini.

"Dalam bisnis makanan misalnya, drive-through atau layanan pemesanan dari kendaraan mungkin akan meluas, tidak hanya untuk makanan cepat saji, tapi juga untuk toko bahan makanan dan restoran. Untuk itu pengusaha perlu mengeluarkan modal lagi," kata Eddie.

"Alih-alih mencoba melestarikan strategi bisnis lama, investor dan eksekutif lebih baik membuat kategori usaha baru yang sesuai dengan sistem kerja dari rumah, serta melindungi konsumen dari bahaya kerumunan," pungkasnya.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Eazy Passport, Solusi Ditjen Imigrasi di Masa Pandemi

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17